Maksud kedatangan Saleh memang untuk melihat secara langsung bagaimana proses produksi baja yang menjadi pemasok utama kebutuhan di Indonesia. Selain itu, Saleh juga mendengarkan keluhan yang dialami oleh industri ini.
"Kami ingin melihat secara langsung apa yang menjadi tantangan ke depan," kata Saleh Husin di Cilegon, Banten, Rabu (26/11/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama menurutnya kendala mengenai harga baja yang terus mengalami penurunan. Selama 3 tahun terakhir, lanjut Irvan harga baja turun US$ 200 per ton menjadi sekitar US$ 500 per ton.
"Kami sampaikan tantangan dan hal yang barangkali masih bisa kami usulkan ke bpemerintah dalam rangka menjawab tantangan industri baja global, yaitu jatuhnya harga baja dunia," kata Irvan di Cilegon, Banten, Rabu (26/11/2014).
Hal tersebut menurut Irvan karena melemahnya kondisi ekonomi di Tiongkok. Dia memperkirakan, tahun depan, ekonomi Tiongkok akan tumbuh hanya 7% dan itu menjadi kekhawatiran dari pelaku usaha baja.
Kondisi melemahnya ekonomi di Tiongkok itu juga berpengaruh terhadap industri baja di dalam negeri. Irvan menjelaskan, jika terjadi penurunan 1% PDB Tiongkok, maka 24 juta ton baja di Negeri Tirai Bambu itu kelebihan pasokan. Pada akhirnya, baja-baja Tiongkok bakal mencari pasar yang potensial.
"Pertanyaannya 24 juta ton ini akan dikirim ke mana. Yang paling mungkin adalah ASEAN dan negara ASEAn yang tarif bea masuknya paling rendah dan perlindungan pasar dalam negerinya masih rendah adalah Indonesia," tuturnya.
Irvan mengatakan, itu menjadi salah satu kekhawatiran dari pelaku usaha di industri baja saat ini. Namun lebih jauh dia yakin karena pemerintah telah berkomitmen untuk mengupayakan agar industri baja sebagai mother of industry tetap tumbuh.
"Hal itu mendapatkan respons positif dari pemerintah. dalam hal ini kementerian teknis, perindustrian melakukan langkah-langkah upaya di dalam rangka merespon perlemahan dari ekonomi global," tutur Irvan.
(zul/ang)











































