Dalam keterangan tertulis PT RNI, Kamis (4/12/2014), JK didampingi Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyempatkan diri berkeliling areal PG sambil berbincang dengan Direktur Utama (Dirut) PT RNI Ismed Hasan Putro terkait tantangan pengembangan industri gula saat ini.
Kunjungan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mempersiapkan industri gula demi terwujudnya swasembada gula di Tanah Air.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, tidak hanya melalui dukungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkebunan, pemerintah pun dituntut komitmen terhadap tujuan itu.
"Industri gula nasional tidak akan pernah maju bila pemerintah masih ambigu dalam mengeluarkan regulasi terkait gula rafinasi," tegas Ismed.
Pemerintah perlu tegas membatasi pasokan dan melarang gula rafinasi masuk ke pasar konsumsi rumah tangga. Tanpa itu kemajuan industri gula nasional sulit tercapai dan harapan swasembada pangan semakin jauh.
Ismed, menjelaskan, realitasnya industri gula saat ini menghadapi tantangan yang kompleks. Serbuan gula impor rafinasi dan pasar bebas ASEAN yang akan diberlakukan 2015, mengharuskan industri gula menggenjot efisiensi jika ingin mampu bersaing dengan produk luar, tidak dapat dipungkiri harga pokok produksi (HPP) gula lokal saat ini masih tinggi.
Terkait hal itu, Ismed menegaskan, pengembangan teknologi di kebun dan pabrik gula menjadi salah satu kuncinya. Hal itu tentu membutuhkan dukungan konkret pemerintah.
Selain kebijakan menekan impor gula mentah, kebijakan pengembangan teknologi pun perlu didorong agar pembenahan terjadi secara ekternal dan internal.
Ismed memaparkan, tahun 2014 ini masih terjadi jarak antara target swasembada gula yang dicanangkan pemerintah dengan produktivitas RNI di lapangan. Dari sisi produktivitas per hektar, target pemerintah 88,7 ton/hektar, saat ini perkebunan tebu RNI mampu menghasilkan 82,2 ton/hektar, masih kurang 6,4 ton/hektar. Hal itu berkorelasi dengan masih minimnya lahan perkebunan tebu.
Industri gula nasional masih membutuhkan 5.870 hektar lahan tambahan. Dari total luas lahan yang ditargetkan tahun ini seluas 70.735 hektar, RNI telah menyumbang sebesar 64.865 hektar.
Mengenai kandungan rendemen, pemerintah menargetkan kandungan rendemen pada 2014 sebanyak 8,53%, sementara rendemen rata-rata RNI tahun ini masih di angka 7,77%, artinya masih kurang 0,75%.
Ismed melihat munculnya gap tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya lahan yang masih minim. Ia menilai perlu ada regulasi yang menjamin ketersediaan lahan dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku tebu.
Selain itu terkait peningkatan teknologi, perlu lebih banyak lagi penelitan dan pengembangan varietas bibit unggul dan optimalisasi proses kinerja pabrik.
(hen/hds)











































