Ditemani Rachmat Gobel, JK Blusukan ke Pabrik Gula di Subang

Ditemani Rachmat Gobel, JK Blusukan ke Pabrik Gula di Subang

- detikFinance
Kamis, 04 Des 2014 16:51 WIB
Ditemani Rachmat Gobel, JK Blusukan ke Pabrik Gula di Subang
Jakarta - Hari ini, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf kalla (JK) mengunjungi Pabrik Gula (PG) Subang milik PT PG Rajawali II anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) di Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Dalam keterangan tertulis PT RNI, Kamis (4/12/2014), JK didampingi Menteri Perdagangan Rachmat Gobel dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar menyempatkan diri berkeliling areal PG sambil berbincang dengan Direktur Utama (Dirut) PT RNI Ismed Hasan Putro terkait tantangan pengembangan industri gula saat ini.

Kunjungan ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam mempersiapkan industri gula demi terwujudnya swasembada gula di Tanah Air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada kesempatan itu, Ismed mengatakan, RNI sangat mendukung upaya pemerintah mewujudkan swasembada gula. Sebagai salah satu pemain utama dalam industri gula tanah air dengan 10 pabrik gula di Pulau Jawa, ditambah masuknya RNI ke dalam industri hilir, RNI siap berkontribusi penuh dalam mewujudkan program pemerintah tersebut.

Namun, tidak hanya melalui dukungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) perkebunan, pemerintah pun dituntut komitmen terhadap tujuan itu.

"Industri gula nasional tidak akan pernah maju bila pemerintah masih ambigu dalam mengeluarkan regulasi terkait gula rafinasi," tegas Ismed.

Pemerintah perlu tegas membatasi pasokan dan melarang gula rafinasi masuk ke pasar konsumsi rumah tangga. Tanpa itu kemajuan industri gula nasional sulit tercapai dan harapan swasembada pangan semakin jauh.

Ismed, menjelaskan, realitasnya industri gula saat ini menghadapi tantangan yang kompleks. Serbuan gula impor rafinasi dan pasar bebas ASEAN yang akan diberlakukan 2015, mengharuskan industri gula menggenjot efisiensi jika ingin mampu bersaing dengan produk luar, tidak dapat dipungkiri harga pokok produksi (HPP) gula lokal saat ini masih tinggi.

Terkait hal itu, Ismed menegaskan, pengembangan teknologi di kebun dan pabrik gula menjadi salah satu kuncinya. Hal itu tentu membutuhkan dukungan konkret pemerintah.

Selain kebijakan menekan impor gula mentah, kebijakan pengembangan teknologi pun perlu didorong agar pembenahan terjadi secara ekternal dan internal.

Ismed memaparkan, tahun 2014 ini masih terjadi jarak antara target swasembada gula yang dicanangkan pemerintah dengan produktivitas RNI di lapangan. Dari sisi produktivitas per hektar, target pemerintah 88,7 ton/hektar, saat ini perkebunan tebu RNI mampu menghasilkan 82,2 ton/hektar, masih kurang 6,4 ton/hektar. Hal itu berkorelasi dengan masih minimnya lahan perkebunan tebu.

Industri gula nasional masih membutuhkan 5.870 hektar lahan tambahan. Dari total luas lahan yang ditargetkan tahun ini seluas 70.735 hektar, RNI telah menyumbang sebesar 64.865 hektar.

Mengenai kandungan rendemen, pemerintah menargetkan kandungan rendemen pada 2014 sebanyak 8,53%, sementara rendemen rata-rata RNI tahun ini masih di angka 7,77%, artinya masih kurang 0,75%.

Ismed melihat munculnya gap tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya lahan yang masih minim. Ia menilai perlu ada regulasi yang menjamin ketersediaan lahan dalam rangka menjamin ketersediaan bahan baku tebu.

Selain itu terkait peningkatan teknologi, perlu lebih banyak lagi penelitan dan pengembangan varietas bibit unggul dan optimalisasi proses kinerja pabrik.

(hen/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads