"Kita jadi kurang kompetitif karena ada tambahan biaya. Di sini ada bea masuk sparepart kalau di luar negeri nggak kena. Intinya MRO negara lain lebih murah daripada di Indonesia," kata Direktur Utama GMF AeroAsia Richard Budihadianto saat acara Penandatanganan Kerjasama Pembangunan Hanggar Bintan antara GMF-Bintan Aviation Investments di Hanggar GMF, Komplek Bandara Soetta, Tangerang, Senin (7/12/2014).
Menurutnya pemiliki MRO seperti GMF tidak menanggung bea masuk sparepart yang jumlahnya bervariasi. Bea masuk tersebut dibebankan atau ditanggung oleh maskapai penerbangan atau konsumen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tidak menanggung secara langsung, bisnis perawatan pesawat di Indonesia kurang kompetitif. Masalah ini sudah disampaikan kepada pemerintah.
"Bea masuk sekarang sedang dibicarakan. Memang yang paling terasa ialah airlines," ujarnya.
Richard juga angkat suara terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Bisnis perawatan pesawat justru memperoleh angin segar dari pelemahan rupiah. Alasannya adalah pendapatan atau tarif di bisnis MRO pesawat 90% berbentuk dolar sedangkan pengeluaran sekitar 50% berbentuk rupiah.
"Kita untungnya semakin besar karena juga tambah kapasitas. Memang kita alami untung kurs," jelasnya.
(feb/hen)











































