Kisah Garam Impor di Indonesia, Ada Mafia '5 Samurai'?

Kisah Garam Impor di Indonesia, Ada Mafia '5 Samurai'?

- detikFinance
Selasa, 09 Des 2014 10:45 WIB
Kisah Garam Impor di Indonesia, Ada Mafia 5 Samurai?
Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat kebutuhan garam impor di dalam negeri sangat beragam. Beberapa industri seperti pabrik kertas hingga industri makanan dan minuman memakai garam impor.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Partogi Pangaribuan menjelaskan sektor industri memerlukan pasokan garam khusus per tahun sebesar 1,9-2,1 juta ton.

Dari mana saja impor garam ini? Dipakai untuk apa saja? Dan benarkah ada mafia impor? Simak hasil rangkuman detikFinance, Selasa (9/12/2014).

Dari Pabrik Kertas Hingga Bumbu Mi Instan Pakai Garam Impor

Menurut perhitungan Kemendag, kebutuhan garam industri diserap oleh industri pulp and paper (bubur kertas dan kertas) sebesar 70%, industri pertambangan (CAP) 20% dan sisanya seperti farmasi dan aneka industri pakan sebesar 10%.

"Termasuk di rakor tanggal Juni 2014 untuk garam aneka pangan seperti untuk bumbu dan mi instan itu butuh garam impor karena garam yang dibutuhkan harus mempunyai NaCl tinggi. Jadi ini masih boleh diimpor," kata Partogi saat diskusi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Senin (8/12/2014).

Kebutuhan garam konsumsi (rumah tangga) yang seharusnya bisa dipenuhi dari produksi garam lokal pada kenyataannya juga harus diimpor. Tahun 2010-2011 dengan jumlah kebutuhan garam konsumsi 1,4-1,6 juta ton, sedangkan produksi garam lokal hanya 30.000 ton akibat anomali cuaca. Saat itu Indonesia mengimpor garam dalam jumlah cukup banyak.

Menurut Partogi urusan garam di dalam negeri ditangani oleh 3 kementerian yaitu kementerian kelautan dan perikanan (KKP), kementerian perindustrian (Kemenperin) dan kementerian perdagangan (Kemendag). KKP mengurusi produksi garam petani lokal, sementara Kemenperin menghitung kebutuhan industri, dan Kemendag mengeksekusi izin impor garam.

"Jadi kita bukan suka mengimpor. Tetapi akan mengimpor apabila dibutuhkan sekali dan tidak ada spek-nya di sini atau gagal panen untuk garam konsumsi," jelasnya.

Australia Pemasok Garam Impor Terbanyak ke Indonesia

Mayoritas garam yang diimpor ke Indonesia berasal dari Australia. Negeri Kangguru ini dianggap produsen garam terdekat dari Indonesia.

Selama periode Januari-September 2014, impor garam dari Australia adalah yang terbesar dengan nilai 1,5 juta ton atau US$ 68,21 juta. Tahun lalu, garam Australia yang masuk ke Indonesia mencapai 1,59 juta ton senilai US$ 73,12 juta.

Partogi menambahkan hingga saat ini produksi garam terbesar di dunia adalah Meksiko. Sayangnya karena letak yang jauh, Indonesia lebih banyak impor garam dari Australia.

Data Terbaru Pengimpor Garam

Berikut ini data terbaru negara pemasok garam impor, antara lain:

  • Australia: 1,5 juta ton, US$ 68,21 juta
  • India: 235.624 ton, US$ 9,84 juta
  • Tiongkok: 24.349 ton, US$ 1,99 juta
  • Selandia Baru: 1.656 ton, US$ 656.784
  • Denmark: 281,5 ton, US$ 116.071
  • Belanda: 268,2 ton, US$ 69.347

5 Samurai = Mafia Impor Garam?

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengungkapkan ada peran '5 samurai' di bisnis impor garam. Istilah 'samurai' identik dengan praktik mafia, yang pernah dikaitkan juga dengan bisnis gula.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Partogi Pangaribuan tak sepakat dengan istilah 'samurai' yang dikaitkan dengan impor garam. Menurutnya istilah samurai ini seolah-olah ada praktik mafia.

Menurut Partogi anggapan semacam ini sempat melekat terhadap bisnis gula. Dalam bisnis gula dikenal ada istilah '7 samurai' atau 7 pemain besar bisnis gula di dalam negeri.

"Sekarang ini samurai nggak ada, dari 7 samurai sekarang tinggal 2, sudah gitu-gitu patah-patah," kilah Partogi .
Halaman 2 dari 5
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads