Pengusaha Ini Pesimistis JK Bisa Bangun 10 Pabrik Gula Baru

Pengusaha Ini Pesimistis JK Bisa Bangun 10 Pabrik Gula Baru

- detikFinance
Selasa, 09 Des 2014 15:07 WIB
Pengusaha Ini Pesimistis JK Bisa Bangun 10 Pabrik Gula Baru
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) berencana membangun 10 pabrik gula baru berbasis tebu hingga 5 tahun ke depan. Namun rencana ini ditanggapi pesimistis oleh pelaku industri gula.

Presiden Direktur PT Gendhis Multi Manis, Kamadjaya yang merupakan pemilik Pabrik Gula Blora, Jawa Tengah, mengatakan target tersebut sulit terealisasi, bila faktor-faktor yang menjadi daya tarik investor terhadap industri gula di dalam negeri tak dibenahi. Kenyataannya saat ini, bisnis industri gula tak menarik bagi investor.

"Saya yakin Pak JK yang punya mimpi membangun 10 pabrik gula baru tak tercapai, tak akan sampai 10 pabrik," kata Kamadjaya saat berkunjung ke kantor detikcom, Selasa (9/12/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kamadjaya beralasan, ada beberapa faktor yang membuat industri gula tak menarik. Pertama, insentif pemerintah saat ini lebih banyak ke industri gula rafinasi yang berbasis bahan baku gula mentah (raw sugar).

Saat ini, 100% raw sugar diimpor dengan insentif bebas bea masuk impor, sehingga tak heran bila gula rafinasi menggerus pasar gula lokal yang merupakan hasil pabrik gula berbasis tebu. Ia mengatakan sejak 1996, jumlah pabrik gula rafinasi terus bertambah hingga 13 pabrik.

"Investasi bangun pabrik rafinasi maksimal Rp 500 miliar. Kalau satu pabrik gula berbasis tebu bisa Rp 1,7 triliun, atau sudah 3 kali lipat. Nggak mungkin ada yang mau bangun pabrik," katanya.

Kedua, soal kebijakan perdagangan atau tata niaga impor. Rata-rata impor raw sugar yang diimpor para pabrikan gula rafinasi setiap tahun mencapai 3,7 juta ton. Rata-rata satu pabrik bisa mendapatkan kuota impor sebanyak 1,4 juta ton per tahun.

Menurutnya jumlah impor raw sugar sangat besar, sementara itu produksi gula dalam negeri yang hanya 2,5 juta ton per tahun. Di sisi lain, kebutuhan dalam negeri tak sebesar pasokan. Jumlah impor yang besar membuat suplai berlebih sehingga berdampak pada jatuhnya harga gula petani eks produksi pabrik-pabrik gula lokal.

"Dengan perhitungan rata-rata konsumsi gula per kepala 20 Kg per tahun, dengan penduduk 250 juta jiwa maka kebutuhan sekitar 5 juta ton. Tapi suplainya ada 6,2 juta ton (2,5 juta ton dan 3,7 juta ton), atau lebih 1,2 juta ton," katanya.

Ketiga, adalah soal kebijakan terhadap industri pergulaan yang tak didukung penuh oleh pemerintah. Rencana peremajaan lahan tebu dan perluasan lahan tebu, termasuk peremajaan pabrik tak berjalan signifikan.

Menurutnya sejak 1984 atau 30 tahun lalu, baru ada satu pabrik gula baru yang sudah dibangun yaitu pabrik yang dimilikinya, PG Blora, Jawa Tengah. Sementara itu pabrik-pabrik lain justru banyak yang sudah tua dan tutup. Setidaknya sudah ada 40 pabrik yang tutup, dan kini hanya tersisa 50 pabrik gula di Indonesia.

"Sejak 1999, mulai ada pencanangan swasembada gula, Pak JK mengalami jadi menperin, sempat jadi wapres, mencanangkan 5 pabrik gula, itu pun yang muncul pabrik PG Blora," katanya.

Kamadjaya memperkirakan, bila kondisi ini terus dibiarkan, maka hampir semua pabrik gula milik PTPN atau BUMN akan tutup. Sedangkan yang bertahan hanyalah pabrik gula milik swasta dari grup-grup besar, seperti kelompok usaha Salim, Wilmar, dan lainnya.

"Makanya kebijakan di (kementerian) perindustrian, perdagangan, BKPM, dan pertanian, kebijakannya harus satu dan harmoni," katanya.

Pemerintah saat ini menargetkan bisa menambah 10 pabrik gula baru dan modern sehingga tingkat rendeman gula (tingkat produksi) meningkat, dari 7% menjadi di atas 10%, atau bisa menyamai rendemen gula di Thailand yang sudah mencapai 12%. Bila ini terwujud, maka Indonesia bisa swasembada gula.

"Kita akan lakukan dalam 3 tahun. Dengan membangun 10 pabrik gula. Membangun pabrik gula. Siapa yang mau bangun, silakan. Karena itu menyangkut jutaan masyarakat di bawah," kata JK kemarin di acara Rapimnas Kadin.

(hen/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads