Namun bila rencana ini dibebankan kepada BUMN produsen gula, maka akan terkendala pendanaan. BUMN gula hanya akan mengandalkan pinjaman bank, apalagi saat ini mereka terkendala arus kas akibat tak lakunya jutaan ton gula, sehingga menumpuk di gudang.
Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) βIsmed Hasan Putro, mengatakan sebagai BUMN gula pihaknya saat ini terkendala keuangan. Menurutnya bisnis gula saat ini sedang tak menguntungkan, karena dampak peredaran gula impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ismed mengatakan untuk membangun pabrik gula berbasis tebu yang baru berkapasitas 6.000 TCd (tone cane per day) dibutuhkan dana sekitar Rp 1,5 triliun.
"Itu belum termasuk lahannya ya. Kalau lahan tergantung harga lahannya berapa," tuturnya.
Sedangkan untuk revitalisasi mesin-mesin tua dan revitalisasi lahan tebu yang bisa meningkatkan kapasitas produksi, Ismed mengatakan dibutuhkan dana sekitar Rp 400 miliar.
β"Produksi bisa meningkat harus revitalisasi pabrik dan kebun/tanaman dengan anggaran lebih kurang Rp 400 miliar," kata Ismed.
(zul/hen)











































