Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Partogi Pangaribuan saat ditemui awak media di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (10/12/2014) malam.
"Budidaya garam kita belum banyak yang pakai teknologi sepertia geomembrane. Makanya garam kita cuma bisa produksi yang 94,7% kadar NaCl-nya," ata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Urusan biaya menjadi kendalanya. Maklum, untuk bisa menggunakan geomembrane di tambak garam, petani tambak garam harus merogoh kocek hingga Rp 21 juta per hektar. Bukan biaya yang murah untuk ditanggung seorang petani tambak garam di tanah air.
"Oleh karena itu pertemuan dengan ibu Susi kemarin, kita minta juga petani garam juga diberikan dukungan geomembrane. Ini supaya produksi petani kita bisa memenuhi kriteria yang diperlukan industri," pungkasnya.
Setiap tahunnya Indonesia memerlukan 1,9-2,1 juta ton garam industri. Di Indonesia, garam industri digunakan untuk berbagai kegiatan produksi untuk tekstil dan kertas. Ada juga untuk kebutuhan pengeboran, juga farmasi dan industri makanan-minuman (mamin).
Dari data yang dipaparkannya, saat ini 70% ketersediaan garam industri diserap oleh industri pulp anda paper, 20% diserap untuk kegiatan pengeboran oleh industri pertambangan dan 10% sisanya intuk industri farmasi dan aneka industri lainnya.
(dna/ang)











































