Indonesia Diserbu Gula Impor, Siapa yang Bermain?

Indonesia Diserbu Gula Impor, Siapa yang Bermain?

- detikFinance
Jumat, 12 Des 2014 11:29 WIB
Indonesia Diserbu Gula Impor, Siapa yang Bermain?
Jakarta - Petani tebu rakyat mengeluhkan tingginya impor raw sugar (gula mentah) yang diimpor pabrik gula rafinasi, sehingga membuat harga gula lokal jatuh. Fenomena yang selalu terulang setiap tahun ini kerap dianggap ada pihak-pihak yang bermain.

Gula rafinasi yang seharusnya digunakan untuk industri seperti industri makanan dan minuman, justru merembes ke pasar umum dengan harga yang lebih murah daripada gula lokal atau gula kristal putih (GKP).

Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Nur Khabsyin mengatakan pemerintah khususnya kementerian perdagangan harus bertanggung jawab karena mengeluarkan izin impor raw sugar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ini kan izin dari pemeirintah. Kalau nggak ada izin itu nggak masuk. Pemerintah yang salah," tegas Nur kepada detikFinance, Jumat (12/12/2014).

Nur geram karena pengusaha industri gula rafinasi mengimpor raw sugar untuk diolah menjadi gula rafinasi dengan total 3,2 juta ton raw sugar pada tahun lalu. Jumlah 3,2 juta ton raw sugar menyusut 10% menjadi 2,9 juta ton gula rafinasi setelah proses pengolahan di pabrik gula rafinasi yang mencapai 13 pabrik.

Padahal menurutnya, kebutuhan gula rafinasi untuk industri makanan dan minuman di dalam negeri hanya 2 juta ton per tahun. Menurut Nur, kelebihan 900.000 ton tersebut secara sengaja dirembeskan ke pasar umum atau di luar industri dengan harga yang lebih murah.

β€Ž"Ada penyimpangan, karena kebutuhan industri makanan minuman itu hanya 2 juta ton. Jadi ada kelebihan, mau tidak mau mereka secara sengaja menyimpangkan ke pasar. Mereka itu yang mengimpor, produsen rafinasi," katanya.

Ia menduga ada kongkalikong antara produsen gula rafinasi dengan regulator pemberi izin impor. Menurutnya, dalam semua praktik impor sebuah komoditi, ada potensi mafia di berbagai lini mulai dari pemerintah dan pengusaha.

β€Ž"Pemerintah, dan juga di lingkungan pengusaha, supplier. Dalam gula ini ada semacam broker itu bisa. Ada lininya. Kebutuhan hanya 2 juta kenapa izin bisa 3,2 juta ton kalau nggak ada mafia yang bermain," katanya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), selama 6 bulan pertama 2014 gula impor terbagi menjadi pasir (rafinasi) dan gula tebu (gula mentah). Gula pasir diimpor sebanyak 38.713 ton atau US$ 21,1 juta dalam 6 bulan tahun ini.

Asalnya adalah dari Thailand 26.115 ton (US$ 13 juta), Korea Selatan 4.185 ton (US$ 2,8 juta), Australia 3.360 ton (US$ 2,3 juta), Malaysia 3.410 ton (US$ 1,8 juta), Selandia Baru 1.560 ton (US$ 1,05 juta), dan negara lainnya total 82 ton (US$ 70 ribu).

Untuk gula tebu, dalam 6 bulan diimpor sebanyak 1,8 juta ton atau US$ 805 juta. Terbesar berasal dari Thailand yaitu 1 juta ton (US$ 449 juta).

Selanjutnya adalah Australia 419.076 ton (US$ 187 juta), Brasil 278.832 ton (US$ 132 juta), Afrika Selatan 82.560 ton (US$ 36,1 juta), dan Korea Selatan 5 ton (US$ 6.584).

Tahun ini kuota impor raw sugar untuk bahan baku gula rafinasi sebesar 3,1-3,2 juta ton. Pada Juli 2014 lalu, kuota sebanyak 1,1 juta ton sempat ditahan oleh pemerintah, sehingga membuat para pabrikan gula rafinasi sempat resah, bahkan ada pemangkasan 200.000 ton jatah impor.

(zul/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads