Ini Celah Terjadinya 'Permainan' di Bisnis Gula

Ini Celah Terjadinya 'Permainan' di Bisnis Gula

- detikFinance
Jumat, 12 Des 2014 12:04 WIB
Ini Celah Terjadinya Permainan di Bisnis Gula
ilustrasi
Jakarta - Perhitungan soal kebutuhan gula di dalam negeri yang tak akurat menjadi penyebab munculnya permainan di bisnis gula khususnya soal jatah impor gula mentah (raw sugar). Perhitungan yang tak akurat memicu tak seimbangnya antara total kebutuhan dengan produksi lokal dan jumlah gula diimpor.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Gula dan Terigu Indonesia (Apegti) Natsir Mansyur mengatakan persoalan neraca gula ini menjadi akar utama yang harus diselesaikan. Sehingga persoalan ribut-ribut rembesan gula impor ke pasar umum bisa segera disudahi.

Ia mengaku persoalan gula nasional sesuatu yang rumit karena menyangkut ribuan petani tebu, puluhan pabrik gula berbasis tebu, hingga belasan pabrik gula rafinasi yang masing-masing punya kepentingan. Para petani dan pabrik gula tebu punya kepentingan produksinya terserap pasar namun dengan harga yang tak kompetitif, di sisi lain pabrik rafinasi punya kepentingan pabriknya tak idle (menganggur) sehingga bisa terus mengolah gula.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Harus dibuat neraca gula nasional yang independen, dibuat neraca menyeluruh antara GKP (Gula Kristal Putih) dan rafinasi, harus pakai surveyor independen. Kalau sekarang masing-masing, untuk rafinasi oleh produsen makanan minuman, ada juga dari dewan gula untuk GKP," kata Natsir kepada detikFinance, Jumat (12/12/2014).

Natsir mengatakan selama ini perhitungan soal kebutuhan gula nasional tak pernah sesuai. Buktinya setiap tahun antara produksi gula lokal dan realisasi impor dengan total kebutuhan konsumsi tak pernah cocok. Perhitungan yang tak akurat memicu peluang impor gula tak terkontrol.

"Sekarang perhitungan untuk GKP itu masih ada 1 juta ton perhitungan kasar yang belum terserap pasar," katanya.

Menurut Natsir, di sisi lain para pabrikan gula rafinasi yang berjumlah 13 pabrik kini punya jatah 3,2 juta ton impor raw sugar. Sedangkan produksi gula lokal sekitar 2,5 juta ton. Sedangkan total kebutuhan gula sekitar 5 juta ton lebih untuk konsumsi langsung maupun industri.

Natsir mengungkapkan selama ini peranan Dewan Gula yang diketuai oleh Menteri Pertanian tak berjalan. Natsir mengaku salah satu anggota Dewan Gula bagian distribusi, namun tak pernah diajak untuk rapat atau pertemuan.

"Dewan Gula dibubarkan saja, tak berfungsi dengan baik. Padahal Dewan Gula tempat bagaimana mengatur manajemen produksi, perdagangan, dan distribusi," katanya.

(hen/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads