'Permainan' di Bisnis Gula, Ini Tanggapan Importir

'Permainan' di Bisnis Gula, Ini Tanggapan Importir

- detikFinance
Jumat, 12 Des 2014 14:34 WIB
Permainan di Bisnis Gula, Ini Tanggapan Importir
Jakarta - Pengusaha industri gula rafinasi tak rela dituduh sebagai penyebab perusak harga gula petani di dalam negeri. Industri gula rafinasi yang juga importir raw sugar (gula mentah) menegaskan kuota impor yang mereka dapat tak ada 'permainan'.

Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Wisnu Hendraningrat mengatakan peruntukan gula rafinasi yang diproduksi oleh para anggotanya sudah jelas untuk industri makanan dan minum, dan industri berskala kecil.

"Saya juga susah menanggapinya. Kita peruntukannya sudah jelas. Rafinasi itu untuk makanan dan minuman. Itu kita olah sesuai dengan kualitas makanan dan minuman," tutur Wisnu saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Sβ€Žubroto, Jakarta, Jumat (12/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Wisnu mengatakan, sebagai pengusaha gula rafinasi yang membutuhkan bahan baku raw sugar atau gula mentah, pihaknya harus mengimpor, karena pasokan raw sugar dari dalam negeri tak bisa memenuhi kebutuhan.

β€Ž"Secara alami kami ini mengimpor bahan baku dari luar negeri. Produksi dalam negeri belum bisa mencukupi. Kami juga dari awal gula rafinasi itu berdiri untuk mensubtitusi impor gula putih," katanya.

Ia menegaskan, impor yang dilakukan oleh industri gula rafinasi sudah sesuai dengan izin yang diberikan pemerintah yaitu kementerian perdagangan. Menurutnya bila ada banjir gula impor, ada kemungkinan adalah gula yang diselundupkan atau masuk secara ilegal ke wilayah Indonesia.

Wisnu mengaku para anggotanya dari pabrikan gula rafinasi sudah berkontribusi besar bagi ekonomi seperti menyerap banyak tenaga kerja dan membayar pajak. Gula rafinasi yang dihasilkan para anggotanya lebih higienis dan kualitasnya lebih baik.

"Sebenarnya kita memberikan nilai tambah (terhadap gula), menyerap tenaga kerja, membayar pajak. Itu kita juga berkontribusi," katanya.

Sebelumnya, Wakil Sekjen Dewan Pimpinan Nasional APTRI M. Nur Khabsyin menduga ada kongkalikong antara pengusaha gula rafinasi dan pemerintah yang menyebabkan gula impor membanjiri pasar dan dampaknya gula petani tak laku karena kalah bersaing. Kongkalikong dalam bentuk pemberiann kuota impor yang melebihi dari kebutuhan.

Nur mengatakan seharusnya kebutuhan gula rafinasi hanya 2 juta ton, namun impor bahan baku atau raw sugarnya bisa mencapai 3,2 juta ton pada tahun lalu. Tahun ini kuota impor raw sugar untuk bahan baku gula rafinasi sebesar 3,1-3,2 juta ton.

(zul/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads