Menengok Pabrik Gula Baru di Tengah Hutan Jati Blora

Menengok Pabrik Gula Baru di Tengah Hutan Jati Blora

- detikFinance
Minggu, 21 Des 2014 12:25 WIB
Menengok Pabrik Gula Baru di Tengah Hutan Jati Blora
Blora -

Pabrik Gula Blora (PG Blora) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah bisa jadi sebagai satu-satunya PG yang dibangun di tengah hutan jati atau di luar kebiasaan yang pada umumnya PG berada di tengah-tengah hamparan Kebun tebu.

Berada di ketinggian 270 meter di atas permukaan laut, PG Blora tepat berada di puncak bukit kapur atau karst di‎ Desa Tinapan, Kecamatan Todanan, Blora‎, Jawa Tengah. Kawasan pabrik masuk dalam wilayah Pegunungan Kendeng.

Butuh waktu 3,5-4 jam untuk mencapai lokasi pabrik gula ini dari Kota Semarang, Jawa Tengah.‎ Lokasi pabrik dari Pusat Kabupaten Blora sekitar 38 km atau butuh perjalanan darat kurang lebih 1 jam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Akhir pekan ini, detikFinance mendapat kesempatan menengok pabrik senilai Rp 1,7 triliun tersebut. Pihak PT Gendhis Multi Manis (GMM) punya alasan tersendiri membangun pabrik gulanya di kawasan hutan jati.

‎"Kenapa dibangun di tengah hutan, saya mau buktikan dengan keadaan kita, bahwa kita bisa bangun pabrik gula di sini.‎ Kalau ditepi laut, itu namanya pabrik gula rafinasi," kata Presiden Direktur PT GMM Kamadjaya di lokasi PG Blora, Sabtu (20/12/2014)

Lahirnya PG Blora tak terlepas dari semangat dan kerja keras Kamadjaya sebagai pengusaha yang sudah lama bekecimpung di pabrik gula. Kisah awal dipilihnya lokasi pabrik di Blora, berkat informasi dari Wakil Bupati Blora Abu Nafi yang mengusulkan ada pabrik gula di Blora. Waktu itu, Kamadjaya sempat berkeliling mencari lokasi pabrik gula baru termasuk ke Papua dan Kalimantan.

Untuk mencapai lokasi pabrik, harus menelusuri jalan yang kondisinya kurang baik, terlihat para pekerja sedang melakukan perbaikan jalan hampir sepanjang perjalanan. Rata-rata lebar jalan hanya 6 meter, yang umumnya kombinasi antara jalan yang beraspal dan beton, hanya cukup untuk dua mobil.

Kabupaten Blora, sejak dulu terkenal sebagai penghasil pohon jati di Pulau Jawa, tak heran sepanjang perjalanan dari‎ pusat kabupaten Blora, ke lokasi pabrik, kanan kiri jalan dipenuhi hamparan pohon-pohon jati. Sekitar 10 Km menjelang lokasi pabrik, pemandangan hutan jati semakin terasa, hanya terlihat beberapa rumah penduduk di tepi jalan.

Rasa penasaran makin terasa, karena sepanjang perjalanan‎, tak banyak terlihat hamparan kebun tebu yang menghijau. Lahan tebu yang ada seolah-olah menjadi titik sporadis di tengah hamparan pohon-pohon jati yang sangat dominan.

Menjelang kurang lebih 1 Km dari lokasi pabrik, pandangan mata mulai tersuguhkan bangunan megah dengan dominan‎ bercat putih di tengah-tengah kebun jati. Lokasi pabrik yang berada di puncak bukit, maka tidak sulit melihat pabrik gula tersebut dari kejauhan.

Semakin dekat, terlihat jelas atap pabrik yang berwarna putih diselingi cat merah bertuliskan 'PG Blora GMM'‎. Tak lama kemudian, papan bertuliskan
'Selamat Datang di PG Blora' menyapa. Untuk mencapai pabrik, kendaraan harus sedikit melipir perbukitan jati dan menanjak.

Menjelang masuk di area pabrik, ter‎lihat benteng kekar setinggi kurang lebih 2-3 meter yang tersusun dari pecahan batu kapur . Memasuki kawasan pabrik, seolah-olah kita dibawa masuk kawasan hutan rimba yang dipenuhi beberapa jenis pepohonan selain jati, terdapat beberapa bangunan kecil sebagai tempat penginapan para karyawan.

Setibanya di lokasi, kemegahan PG Blora yang berdiri di atas lahan 60 hektar membuat rasa tak percaya, karena di tengah hutan jati yang cukup rapat terdapat sebuah pabrik gula yang sangat besar. Setidaknya ada 4 bangunan utama dengan ukuran besar di lokasi pabrik. Selain itu, ada bangunan lain yang fungsinya sebagai ruang pertemuan atau kantor pabrik, yang dilengkapi pendopo luas yang konstrusinya seluruhnya dibuat ‎dari kayu jati.

Bunyi deru mesin sudah menyambut, padahal jaraknya kurang lebih 100 meter. Semakin dekat dengan pabrik, percakapan jarak‎ dekat pun sulit dilakukan karena kerasnya suara mesin pabrik.

Di PG Blora terdapat beberapa bangunan utama yaitu bangunan tempat proses penggilingan tebu, bangunan pengolahan nira tebu menjadi gula lengkap dengan 'kompor' raksasa yang mengeluarkan uap air selama 24 jam. Selain itu, terlihat gudang besar tempat menyimpan hasil produksi gula yang dikemas dalam bentuk karung ukuran 50 kg.

Selain bagunan tadi, juga terlihat pembangkit listrik yang bisa menghasilkan 12 mega waat (MW) yang lokasinya berdekatan dengan bagunan utama pabrik. Di sisi timur PG Blora terdapat sebuah waduk buatan yang cukup luas hingga beberapa hektar. Waduk ini dibuat oleh PT GMM, fungsinya sebagai sumber air dan penampungan air hasil perasan tebu yang tersisa dari proses penggilingan tebu menjadi gula.

Masih di sisi timur, ada hal yang menarik yaitu soal keberadaan gua yang lokasinya tepat di tepi waduk atau di bawah kaki bukit yang atasnya merupakan bangunan utama PG Blora. Goa ini diberi nama Goa Banyu atau goa yang dipenuhi air, menurut informasi ada 2 goa lagi yang lokasinya tak jauh dari PG Blora. Kawasan PG Blora yang berada di kawasan karts atau perbukitan kapur,‎ memungkinkan goa-goa alam terbentuk di wilayah ini.

Sementara itu di sisi barat atau sisi depan pabrik, yang berbatasan dengan jalan utama menuju lokasi PG Blora, pemandangan ‎lain justru terlihat. Beberapa pemukiman penduduk terlihat cukup rapat, bahkan sudah banyak warung-warung yang menjual makanan dan kebutuhan sehari-hari yang lokasinya cukup dengan pabrik. Selain itu, fasilitas Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang disediakan oleh sebuah Bank BUMN sudah tersedia.

Menurut Kepala Desa Kedungwungu, Sumarsoni, semenjak keberadaan PG Blora, wajah desanya yang berdekatan dengan PG Blora telah berubah. Menurutnya sebelum ada PG Blora, kanan-kira jalan di sekitar PG Blora tak ada warung-warung, hanya hutan jati.

"Dulu di sini tak ada warung, sekarang lihat sendiri sudah banyak warung di sini, ekonomi desa berputar karena ada pabrik ini," kata Soni.

Soni berharap keberadaan pabrik ini bisa menjadi penggerak ekonomi di ‎desa-desa sekitar pabrik termasuk Kecamatan Todanan, hingga mengangkat Kabupaten Blora. PG Blora yang menyerap 400 tenaga kerja juga telah berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja di wilayah sekitar pabrik.

Seorang pekerja PG Blora dari desa sekitar, yang tak mau disebutkan namanya, mengatakan‎ ia sempat bekerja di sebuah pabrik di Jakarta selama 2 tahun. Namun setelah pulang kampung, ia justru lebih memilih bekerja di PG Blora meski dengan upah yang jauh di bawah Jakarta.

Ia mengaku bekerja sebagai tenaga kerja kontrak dengan upah sebesar Rp 1.050.000 per bulan. Total penghasilan yang ia dapat dalam sebulan dengan tambahan insentif bisa mencapai Rp 1,2 juta.

"Saya pilih kerja di sini, karena biaya hidupnya jauh lebih murah dari Jakarta, walaupun gajinya lebih kecil," ungkapnya.

(hen/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads