"Saat ini kami nggak punya uang," kata Direktur Utama Kertas Leces Budi Kusmarwoto saat konferensi pers di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (24/12/2014).
Saat ini, Budi menjelaskan, perseroan masih fokus memproduksi kertas konvensional seperti kertas budaya dan industri (HVS dan HVO) namun produksi dilakukan hanya saat ada permintaan saja. Oleh karenanya, kegiatan produksi perseroan belum bisa menutup segala beban perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, perseroan juga tidak punya hutan tanaman industri sehingga sangat tergantung pada harga bahan baku dari pasar yang diatur pemain-pemain besar berskala besar.
Untuk itu, perseroan akan memilih produk yang memberikan keuntungan (margin) tinggi seperti diversifikasi produk pada pulp rice straw yang berbahan baku jerami. Harganya mencapai US$ 2.000 per ton.
Produk itu sangat menguntungkan dibandingkan pulp dari bahan baku kayu yang nilainya US$ 650 per ton. Produk dari bahan baku jerami ini sudah mampu diekspor.
"Kami sudah mulai ekspor jerami merang. Ini kita eskpor ke Jepang untuk campuran uang yen, krecek-kreceknya itu dari jerami kita," ungkapnya.
Selain itu, perseroan juga akan melakukan transformasi bisnis ke produksi kertas berharga dari serat Abaca. Produk yang dihasilkan dari bahan baku ini berupa kertas uang, bank notes, dan lain-lain.
Transformasi bisnis ini dinilainya akan mampu memperbaiki kinerja perseroan. Di tahun 2020, perseroan meyakini akan mampu menghasilkan pendapatan sebesar Rp 1,7 triliun dengan laba Rp 500 miliar.
"Kami sudah melakukan MoU untuk mewujudkan kertas margin tinggi dangan investor strategic, menguasai sumber bahan baku, teknologi, pembiayaan dan akses pemasaran, yaitu pemain dunia dari China dan AS. Dengan itu ke depan bukan lagi leces yang berdarah-darah lagi tapi masuk ke lebih spesial, jadi lebih bagus lagi, itu harapannya," pungkasnya.
(drk/ang)











































