Dampak Banjir di Bandung, 90% Pabrik Tekstil Setop Produksi

Dampak Banjir di Bandung, 90% Pabrik Tekstil Setop Produksi

- detikFinance
Kamis, 25 Des 2014 10:32 WIB
Dampak Banjir di Bandung, 90% Pabrik Tekstil Setop Produksi
Jakarta - Banjir yang melanda Bandung, Jawa Barat berdampak buruk terhadap aktivitas industri di kota tersebut. Kurang lebih 90% pabrik di Kawasan Industri di Jalan Mohammad Toha hingga ke Dayeuh Kolot, harus menghentikan produksi karena banjir.

Kawasan industri di dua kawasan tersebut didominasi oleh pabrik tekstil dan garmen.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan genangan air yang mencapai 1,5 meter di sejumlah jalan di kawasan itu sempat masuk ke beberapa pabrik. Pihak manajemen pabrik sudah menyiapkan peralatan untuk mengantisipasi musibah yang terus menerus berulang ini. Sehingga, tak ada mesin atau peralatan yang rusak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pabrik yang terendam walaupun air yang tinggi, tapi kita berpengalaman. Kita siapkan pompa cukup besar, jadi tidak ada mesin yang terendam di sana," tutur Ade saat dihubungi detikFinance, Kamis (25/12/2014).

Ade mengatakan aktivitas produksi di pabrik terganggu dan beberapa terhenti karena banyak karyawan pabrik tak masuk, karena akses menuju tempat kerja lumpuh. Para karyawan yang bekerja di pabrik-pabrik tersebut mayoritas berasal dari sisi selatan yang genangan airnya paling parah. Saat ini akses satu-satunya menurut Ade adalah menggunakan perahu karet.

"Tetap tidak bisa berproduksi, banjirnya 1,5 meter, harus pakai perahu, itupun sulit unutk memobilisasi perahu yang cukup besar," tuturnya.

Ade menyebutkan, kondisi ini sudah terjadi hampir sepekan, namaun air tak juga surut. Ade mengungkapkan total pabrik yang ada di dua kawasan itu rentan banjir sebanyak 300-an pabrik antara lain pabrik tekstil, garmen, pabrik coklat, dan lainnya.

"Hampir semua pabrik di sana, katakanlah 90%. Kondisinya seperti ini sudah 6 hari sampai sekarang karena air nggak turun-turun," jelas Ade.

Ade memastikan pabrik-pabrik mengalami kerugian karena karyawan tak masuk kerja. Kerugian pabrik juga diakibatkan barang hasil produksi tertahan di gudang karena tak ada kendaraan yang mampu menerjang tingginya banjir.

"Barang ekspor tak bisa dikirim. Bahan baku juga tidak bisa masuk," tuturnya.

Selain menanggung kerugian akibat pabrik tak produksi sepekan, namun pengusaha harus membayar biaya operasional lainnya yang harus ditanggung.

"Produksi nggak jalan saja sudah ada kerugian. Kita masih harus bayar listrik kan abodemen, bunga bank tetap jalan, barang nggak terkirim, gaji tetap dibayar sementara produktivitas tidak ada," tutupnya.

(zul/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads