Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) memproyeksikan peningkatan produksi karet Indonesia tahun ini hanya 1,75%. Peningkatan produksi ini relatif rendah karena sengaja dikendalikan terkait harga karet dunia yang anjlok.
Sore ini, Perwakilan Gapkindo mendatangi kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk bertemu Menteri Perdagangan Rachmat Gobel. Perwakilan Gapkindo dipimpin oleh Direktur Eksekutif Gapkindo Rusdan Dalimunthe.
"2015 kita proyeksikan produksi karet 3,2 juta ton jadi pertumbuhannya 1,75%. Ini proyeksi produksi peningkatan produksi sekitar 1,75%," katanya saat ditemui di Kantor Kemendag, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Kamis (8/01/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia beserta Malaysia dan Thailand yang tergabung di ITRC atau International Trpartite Rubber Council sepakat untuk memangkas produksi karet.
Rusdan mengungkapkan anjloknya harga karet dunia karena kelebihan suplai. Karet saat ini tidak hanya diproduksi leh 3 negara yaitu Indonesia, Malaysia dan Thailand tetapi juga Vietnam, Laos dan Kamboja.
"Harga US$ 1,5 di Januari per kilogram. Harga terus merosot karena kelebihan suplai," imbuhnya.
Rusdan memiliki 3 skenario ekspor karet yaitu 80%, 82% dan 75%, maksudnya kenario yang dimaksud yaitu bila mengekspor 82% dari 3,2 juta ton yaitu 2,8 juta ton sisanya diserap di dalam negeri, begitu seterusnya. Menurutnya produsen tak hanya berorietasi ekspor tetapi juga melihat potensi permintaan karet domestik seperti industri ban.
"Kita juga dukung industri dalam negeri," katanya.
Keadaan perkaretan dunia saat ini mengalami tekanan yang cukup berat, karena besarnya stok karet di tangan industri yang mencapai lebih dari 2,4 juta ton.
Sehingga harga karet menjadi tertekan mencapai sekitar US$ 1,6/kg. Keadaan ini terus berlanjut di bulan November menjadi sekitar US$ 1,54/kg, padahal pada 2011 harganya masih US$ 4/kg.
Β
Sementara itu, Mendag Rachmat Gobel mengatakan daripada petani/produsen karet merugi dari anjloknya harga karet dunia lebih baik diserap ke pasar domestik.
"Harga karet sedang jatuh jadi saya bilang asosiasi karet ini kan ada kebutuhan besar di dalam negeri yaitu pembangunan infrastruktur, sementara karet ini salah satu bahan baku yang digunakan untuk jalan juga pelabuhan dan lain-lain," papar Gobel.
Ia berencana akan bertemu dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono. Pertemuan keduanya akan membahas seberapa besar penyerapan karet petani yang digunakan untuk proyek infrastruktur.
"Kita akan bahas lagi hari Minggu atau Senin dengan Menteri PU. Berapa kebutuhan dan investasi yang diperlukan," paparnya.
Gobel menargetkan karet produksi petani lokal lebih baik banyak diserap di pasar domestik, atau setidaknya sama dengan porsi ekspor.
"Paling bagus 50% ekspor 50% dalam negeri. Idealnya 50:50 targetnya 5 tahun ini," jelasnya.











































