Selain Indonesia, Malaysia Juga Punya Produk Jamu

Selain Indonesia, Malaysia Juga Punya Produk Jamu

- detikFinance
Jumat, 16 Jan 2015 12:20 WIB
Selain Indonesia, Malaysia Juga Punya Produk Jamu
ilustrasi
Jakarta -

Produk jamu tak hanya dibuat di Indonesia, sebagai produk herbal, jamu juga dibuat oleh negeri jiran seperti Malaysia.

Pihak Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui industri jamu di Malaysia tumbuh pesat. Bahkan pertumbuhannya jauh lebih cepat dibandingkan di Indonesia.

"Malaysia lebih terstruktur dan standar mereka sudah ketat, teknologinya juga relatif lebih baik," ungkap Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah (IKM) Kemenperin, Euis Saedah saat ditemui di kantor Kemenperin, Jakarta, Jumat (16/01/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Euis, mayoritas industri jamu di Malaysia adalah industri besar. Mereka juga punya kelebihan lain yaitu jaringan promosi yang cukup luas. Sehingga jamu buatan Malaysia bisa ditemui dengan mudah di berbagai negara termasuk di dalam negeri.

"Malaysia promosinya bagus," imbuhnya.

Di Indonesia, mayoritas produsen jamu masih dilakukan industri kecil menengah (IKM). Dari total 1.160 industri jamu, 16 adalah industri skala besar dan 1.144 industri kecil. IKM jamu di dalam negeri masih banyak mengalami kendala seperti akses modal dan teknologi yang terbatas.

"Indonesia terbatas pada perusahaan yang besar yang punya standar, teknologi, bahan baku sudah terjamin. Masalahnya IKM ini yang banyak," keluh Euis.

Sebelumnya Para pengusaha di bawah Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di sektor jamu dan kosmetika resah karena maraknya jamu ilegal. Di pasar dalam negeri, sebanyak 20% jamu yang beredar statusnya ilegal.

Kadin mencatat nilai perdagangan jamu, kosmetika, dan herbal di dalam negeri per tahun mencapai Rp 80 triliun. Dari jumlah itu Rp 15 triliun atau hampir 20% adalah produk jamu impor ilegal terutama berasal dari Tiongkok.

Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Industri Tradisional Berbasis Budaya Putri K. Wardani mengeluh tingginya perdagangan produk jamu impor ilegal di Indonesia.

"Setiap tahun pertumbuhan permintaan jamu (dan turunannya) di dalam negeri naik 10%, yang ilegal juga naik 20-30%. Ini yang harus mendapatkan perhatian khusus pemerintah," ungkap Putri di tempat yang sama.

Β 

Euis menambahkan saat ini peredaran jamu ilegal termasuk dari impor cukup banyak, karena besarnya pasar di dalam negeri.

"Permintaan cukup besar," kata Euis.

Selain permintaan yang cukup besar, masyarakat Indonesia dinilai lebih suka produk impor ketimbang barang lokal. Alasannya karena barang impor dianggap lebih bermerek.

"Kita bersaing di sisi kualitas. Kelemahan masyarakat Indonesia mereka lebih suka barang asing. Karena terwarisi nenek moyang haduh enak ya cokelat, kuenya wangi, bajunya begini. Nah itu kayak mimpi yang bagus itu dari luar pasti dimana-mana begitu," paparnya.

Dengan fenomena seperti ini justru menurut Euis secara tidak langsung akan mematikan industri jamu lokal. Apalagi mayoritas industri jamu lokal adalah industri kecil menengah (IKM).

"Bangun dong dengan memanfaatkan barang sendiri. Porsinya jangan 80% barangnya impor 20% lokal harus dibalik. Supaya input kepada industri kita juga bagus," jelasnya.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads