Pesawat tersebut harus dirancang supaya bisa memudahkan perjalanan bolak-balik ke luar angkasa, tidak seperti sekarang ini yang membutuhkan biaya mahal satu kali perjalanan.
Selama ini, AS juga sangat bergantung kepada Rusia untuk mengirimkan astronotnya ke International Space Station. Sekali jalan, Rusia meminta ongkos hingga US$ 70 juta (Rp 840 miliar) untuk satu astronot.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tidak mau lagi memberikan cek (membayar) kepada Roscosmos," kata Administrator NASA, Charles Bolden saat jumpa pers mengenai pengumuman tersebut seperti dikutip CNBC, Selasa (27/1/2015).
Ia percaya betul kepada dua perusahaan AS ini bisa menyelesaikan tugasnya sesuai harapan. Apalagi, Boeing yang sudah berumur 100 tahun punya pengalaman yang mumpuni.
"Saya yakin bahwa saat perusahaan merayakan ulang tahunnya yang ke-200 nanti, akan ada divisi Boeing yang mengurus pesawat luar angkasa komersial," katanya John Elbon, yang memimpin proyek kapal luar angkasa ini.
Taksi luar angkasa bikinan Boeing ini akan diberi nama CST-100. Proyeknya dimulai tahun ini dan percobaan terbang perdana tanpa awak akan dilakukan April 2017, dan memakai awal pada Juli 2017.
Sementara Presiden Direktur SpaceX Gwynne Shotwell memprediksi pesawat luar angkasanya yang diberi nama Dragon 2 bisa melakukan uji coba perdana lebih awal, yaitu di awal 2017.
(ang/ang)











































