Boeing dan SpaceX Dapat Modal Rp 86 Triliun Garap 'Taksi' Luar Angkasa

Boeing dan SpaceX Dapat Modal Rp 86 Triliun Garap 'Taksi' Luar Angkasa

- detikFinance
Rabu, 28 Jan 2015 07:58 WIB
Boeing dan SpaceX Dapat Modal Rp 86 Triliun Garap Taksi Luar Angkasa
Ilustrasi Foto (Reuters)
Houston - Dua produsen pesawat asal Amerika Serikat (AS), Boeing dan SpaceX, diberi modal masing-masing US$ 4,6 miliar dan US$ 2,6 miliar oleh NASA untuk mengembangkan 'taksi' luar angkasa.

Pesawat tersebut harus dirancang supaya bisa memudahkan perjalanan bolak-balik ke luar angkasa, tidak seperti sekarang ini yang membutuhkan biaya mahal satu kali perjalanan.

Selama ini, AS juga sangat bergantung kepada Rusia untuk mengirimkan astronotnya ke International Space Station. Sekali jalan, Rusia meminta ongkos hingga US$ 70 juta (Rp 840 miliar) untuk satu astronot.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nah, jika Boeing atau SpaceX sudah berhasil mengembangkan pesawat luar angkasa sendiri, maka biaya yang dibutuhkan bisa ditekan hingga US$ 58 juta per kursi. Dua perusahaan diberi tenggat waktu selama dua tahun, sampai akhir 2017.

"Saya tidak mau lagi memberikan cek (membayar) kepada Roscosmos," kata Administrator NASA, Charles Bolden saat jumpa pers mengenai pengumuman tersebut seperti dikutip CNBC, Selasa (27/1/2015).

Ia percaya betul kepada dua perusahaan AS ini bisa menyelesaikan tugasnya sesuai harapan. Apalagi, Boeing yang sudah berumur 100 tahun punya pengalaman yang mumpuni.

"Saya yakin bahwa saat perusahaan merayakan ulang tahunnya yang ke-200 nanti, akan ada divisi Boeing yang mengurus pesawat luar angkasa komersial," katanya John Elbon, yang memimpin proyek kapal luar angkasa ini.

Taksi luar angkasa bikinan Boeing ini akan diberi nama CST-100. Proyeknya dimulai tahun ini dan percobaan terbang perdana tanpa awak akan dilakukan April 2017, dan memakai awal pada Juli 2017.

Sementara Presiden Direktur SpaceX Gwynne Shotwell memprediksi pesawat luar angkasanya yang diberi nama Dragon 2 bisa melakukan uji coba perdana lebih awal, yaitu di awal 2017.

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads