Mengintip Pabrik Sparepart Boeing dan Airbus di Pulau Bintan

Mengintip Pabrik Sparepart Boeing dan Airbus di Pulau Bintan

- detikFinance
Senin, 02 Feb 2015 07:40 WIB
Mengintip Pabrik Sparepart Boeing dan Airbus di Pulau Bintan
Foto: Maikel/detikFinance
Bintan - Bintan adalah satu dari sekian banyak pulau yang berada di Kepulauan Riau (Kepri). Namanya cukup sering didengungkan berkat lokasinya yang sangat dekat dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia.

Akhir pekan lalu, detikFinance berkesempatan untuk datang ke pulau tersebut. Agendanya, melihat lebih dekat pabrik sparepart atau komponen pesawat milik perusahaan asal Amerika Serikat (AS), Honeywell.

Perjalanan pagi itu sungguh cepat, hingga waktu sekitar 1,5 jam tak terasa sudah mendarat di Bandar Udara (Bandara) Internasional Raja Haji Fisabilillah di kota Tanjung Pinang. Sebelumnya bandara ini bernama Kijang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk langsung ke lokasi tujuan dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lagi dengan menggunakan mobil. Perkiraan waktu sulit untuk meleset, karena tipis sekali kemungkinan terjadinya macet layaknya di kota besar.

Kondisi jalan di pulau ini terhitung sangat bagus. Bahkan bila dibandingkan dengan Jakarta. Mungkin salah satu faktornya karena intensitas kendaraan di jalanan masih sedikit. Truk dan kendaraan kelas berat lainnya pun juga jarang terlihat.

Bila melihat sedikit ke bagian kiri dan kanan jalan, selalu ada pemandangan yang berganti. Bisa saja hutan, bisa tumpukan tanah merah, bekas lahan pertanian, sungai, selat, pantai dan beberapa kali tampak papan reklame.

"Kita sudah lewatin sekitar 3 selat sejak dari bandara tadi," kata sopir yang akan mengantarkan ke tujuan, Jumat (29/1/2015).

Sangat dekat dengan laut, wajar Bintan menjadi lebih panas. Namun, masih sejuk dibandingkan daerah lain yang diselimuti jutaan komponen polusi.

Pabrik ini berlokasi di satu kawasan industri perdagangan bebas. Untuk masuk ke dalamnya, harus melewati dua portal dengan penjagaan yang cukup ketat dari petugas keamanan. Lokasi tujuan, keperluan, asal, pekerjaan dan jumlah penumpang menjadi beberapa pertanyaan dari mereka.

Mungkin bisa dibayangkan bahwa bentuk kawasannya seperti yang terletak di Cikarang, Jawa Barat. Ada pabrik dari perusahaan AS, Korea Selatan, Jepang dan lainnya. Bedanya, ini masih sepi. Belum banyak bangunan pabrik yang tampak berdiri.

Mobil pun kemudian masuk ke area parkir pabrik. Saya pun disambut langsung dengan tulisan nama perusahaan berwarna merah di bagian atas pabrik, yaitu PT Honeywell Indonesia.

Kembali berhadapan dengan petugas keamanan, dan kemudian diarahkan ke bagian resepsionis. Ada dua wanita yang cukup fasih berbahasa Inggris sudah menunggu. Dengan ramah, Ia meminta kartu identitas untuk dicocokan kembali dengan data undangan yang sebelumnya dikirimkan.

Ketat atau bisa diartikan menerapkan standar sistem operasional yang tinggi sudah dijawab perusahaan ini secara tidak langsung.

Sebelum masuk ke dalam pabrik, rombongan harus mengikuti briefing dari salah satu karyawan. Meliputi rute yang nantinya akan dilewati, kegiatan dan benda yang diperbolehkan dan dilarang, aturan bertanya dan mendapatkan informasi dan lainnya.

Prosedurnya setiap orang harus mengenakan pakaian khusus berwarna putih, lengkap dengan kaca mata. Segala macam bentuk barang elektronik, seperti kamera, kamera video, telepon seluler (ponsel), alat perekam suara dan segala sesuatu yang bisa mengeluarkan api tidak diperbolehkan masuk.

Safety atau keamanan menjadi poin pertama diingatkan perusahaan. Bisa terlihat, saat pintu pabrik dibuka, berbagai peringatan untuk kemanan sudah ada di dinding. Uniknya peringatan tersebut dibuat dalam bentuk gambar karikatur.

Berjalan beberapa langkah ke depan, sudah ada papan informasi yang menampilkan seputar ruangan utama pabrik, jenis produk yang dihasilkan hingga penanggung jawab untuk area.

Pintu selanjutnya dibuka untuk masuk ke ruangan perakitan. Ada beberapa produk yang dirakit, seperti EGPWS, KSN, KX155A, Nav Com dan AV850A. Masing - masing produk juga berada pada baris yang berbeda.

Kala itu karyawan yang hadir ada sekitar 100an orang. Hampir semuanya adalah warga negara Indonesia. Meski ada tamu, mereka tampak konsentrasi menjalankan tugasnya. Terlihat ada yang sibuk di depan komputer hingga merakit produk tersebut.

Sistem bekerja dalam pabrik juga sangat teratur. Untuk setiap produk yang selalu ada SOP perakitan yang tertempel di masing-masing barisan. Sehingga kemungkinan terjadinya kesalahan produksi sangat tipis.

Peralatan canggih pun juga tersedia lengkap. Misalnya untuk pengetesan KSN, maka ada semacam alat yang bisa membuat seakan berada di dalam pesawat. Dengan tujuan agar produk bisa berfungsi dengan semestinya.

Jam kerja utama pada pabrik adalah dari pukul 08.00 WIB - 17.00 WIB. Bagi karyawan yang lembur, maka disediakan waktu hingga malam hari.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads