Curhatan para pengusaha di bawah ASAKI ini disampaikan kepada Menteri Perindustrian Saleh Husin, hari ini. Perwakilan ASAKI mendatangi kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), di Jalan Gatot Soebroto.
"Kita sampaikan beberapa kendala industri keramik, terutama di energi, yang kedua over supply, juga bagaimana kita menjaga mengurangi impor keramik ke Indonesia," tutur Chairman Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Elisa Sinaga usai bertemu Saleh Husin di kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (2/2/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Malaysia atau Thailand contohnya, harga gas untuk industri berkisar di harga US$ 5 per MMBTU, sedangkan di Indonesia, harganya hampir menyentuh US$ 10 per MMBTU.
"Gas untuk di barat US$ 9,3. Di timur itu US$ 8,4 MMBTU. Di Malaysia itu US$ 5,5, di Singapura, Thailand di bawah US$ 5," jelasnya.
Ia meminta pemerintah mengambil langkah strategis demi memajukan daya saing industri keramik dalam negeri. "Katakanlah pemerintah bisa mensubsidi. Ini untuk industri dalam negeri," tambahnya.
Kendala lain, lanjut Elisa, adalah kelebihan pasokan keramik di dalam negeri. Dalam 2 tahun ini, investasi di industri keramik meningkat cukup signifikan. Kapasitas produksi dalam 2 tahun terakhir meningkat 70%. Namun, hal itu tidak sejalan dengan pertumbuhan sektor properti yang secara langsung merupakan konsumen utama industri keramik.
"Kita jor-joran ada investasi besar-besaran. Sebagian pabrik itu sekarang sudah mulai beroperasi. Di saat yang sama industri properti sedang melambat, jadi ada over supply. Produksi meningkat 70% dibanding 2012," katanya.
Produksi keramik di dalam negeri saat ini mencapai 550 juta meter kubik per tahun, sementara kebutuhan hanya mencapai 500 juta. Dari sekitar 500 juta meter kubik, sebanyak 15% dikuasai keramik impor.
"Impornya juga kita pantau 15% dari total kebutuhan," tutupnya
(zul/hen)










































