Setelah berhenti mengembangkan proyek mobil listrik, BUMN produsen panser hingga senjata tersebut, memilih masuk ke industri alat berat yang memiliki potensi pasar yang tinggi, seperti eskavator.
Direktur Utama Pindad Silmy Karim menjelaskan, dihentikannya proyek mobil listrik, karena pihaknya tidak memperoleh kepastian regulasi dan komitmen pengembangan mobil listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pangsa pasar mobil listrik belum terlihat di Indonesia. Apalagi budaya masyarakat Indonesia yang belum menerima keberadaan mobil listrik.
"Buat mobil nggak ada yang beli. Terus siapa yang jamin? Mobil itu satu sistem yang kompleks, nggak bisa hanya buat tapi bisa memasarkan. Khusus di Indonesia, rendahnya budaya memakai mobil listrik dan terkait gengsinya," sebutnya.
Alhasil, Silmy memutuskan agar BUMN strategis ini fokus ke industri alutsista dan non alutsista yang memiliki potensi pasar yang tinggi. Pindad, kata Silmy, sedang mengembangkan purwarupa eskavator atau alat berat, yang biasa dipakai di area pertambangan hingga proyek konstruksi.
Kebutuhan alat berat saat ini masih dipasok dari produk-produk impor. Rencananya Pindad akan meluncurkan purwarupa alat berat buatan Indonesia pada akhir 2015.
"Kita juga daerah tambang. Apalagi sebelumnya kita masih impor," jelasnya.
(feb/dnl)











































