Direktur Marketing Gunung Steel Group, Choiruddin menuturkan, pembangunan di China saat ini tengah melambat. Pasokan baja yang harusnya dimanfaatkan di dalam negeri China terpaksa 'dibuang' ke luar, salah satunya ke Indonesia.
Choiruddin mengatakan, dalam 6 bulan terakhir pihaknya mengurangi kapasitas produksi. Dari kapasitas yang seharusnya 2 juta ton per tahun, kini perusahaan hanya memproduksi di bawah 1 juta ton per tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pabrik ini terpaksa menghentikan produksi sementara, belum lagi stok yang masih menumpuk di gudang yang tak keluar karena kalah oleh banjirnya baja dari China. Tak seperti pabrik-pabrik yang sehat, Choiruddin menuturkan, dalam sebulan pabrik ini hanya beroperasi beberapa hari saja.
"Jadi dengan dumping harga dari China sana merugikan produksi dalam negeri. Stok kita menumpuk. Pabrik hanya beroperasi 7-10 hari tiap bulanโ," katanya.
Dia mengatakan, perusahaan yang awalnya untung kini merugi. "Asalnya plus sekarang minus. Kalau angkanya harus tanya sama keuangan," jelas dia.
Meski tengah 'berdarah-darah', dia mengaku perusahaan tetap membayarkan gaji karyawannya secara utuh dan tidak melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
"Hanya saja insentifnya kita kurangi. Karena kalau produksi besar, insentif juga besar," tuturnya.
Kini, dia menaruh harapan sangat besar pada pemerintah untuk melindungi produsen dalam negeri. Berbagai kebijakan pemerintah diharap bisa melindungi produk lokal dari serbuan impor. Apalagi menurutnya, kebutuhan baja akan semakin meningkat saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) punya program membangun banyak infrastruktur.
"Harusnya ACI, Aku Cinta Indonesia. Sekarang dengan Kabinet Kerja mulai perhatikan, untung nggak sempat ke ICU," tutupnya.
Berdasarkan pengamatan detikFinance, pabrik Gunung Steel Group mencapai 230 hektar. Namun, hanya segelintir orang yang beraktivitas di pabrik ini. Beberapa bangunan-bangunan pabrik telihat gelap, usang, dan tak ada aktivitas.
(zul/hds)











































