Tujuannya agar produk Indonesia mendapatkan fasilitas kemudahan masuk ke negara-negara Eropa yang konsumsi pakaian per kapita sangat tinggi.
"Kita ini free trade dengan negara pesaing seperti Tiongkok dan Korea. Jadi kita tinggal menerobos pasarnya, kami sudah siap untuk target Menteri Perdagangan ekspor meningkat 3 kali lipat di ujung tahun 2019 asal free trade Uni Eropa dan Turki ini dibuka," seru Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat saat ditemui di Kantor Kemenperin Jakarta, Rabu (4/03/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Uni Eropa mempunyai penduduk 260 juta dengan income per kapita US$ 40.000/tahun. Selain selera membeli yang cukup kuat, orang Eropa juga gemar mengkonsumsi produk TPT yaitu konsumsi pakaiannya 28 kg/kapita/tahun.
"Itu adalah peluang, kita kurang manfaatkan karena kurang akses ke Uni Eropa," imbuhnya.
Saat ini produk TPT di Uni Eropa dikuasai 3 negara yaitu Vietnam, Kamboja dan Bangladesh. Ketiga negara tersebut sudah menandatangani perjanjian FTA sehingga diberikan pembebasan tarif bea masuk sebesar 0%. Hal ini justru terbalik dengan Indonesia yang masih dikenakan tarif impor bea masuk produk TPT 12-30%.
"Sangat besar karena ekspor kita ke Uni Eropa kecil baru US$ 3,6 miliar artinya kalau ada free trade bisa meningkat menjadi US$ 10-12,5 miliar ke Uni Eropa," paparnya.
Ade juga ingin pemerintah membuka hubungan perdagangan bebas dengan Turki. Turki dianggap sebagai hub produk TPT Indonesia agar bisa didistribusikan ke pasar Eropa Barat, Eropa Timur hingga Amerika Serikat (AS).
"Turki adalah gerbang ke Eropa Timur, dimana Eropa Timur masuk ke Eropa Berat dan Amerika. Ekspor TPT ke Amerika masih didominasi Eropa. Dengan begitu secara tidak langsung kita ekspor ke Amerika dengan pintu gerbang Turki," jelasnya.
Dirjen Basis Industri Manufaktur Kemenperin Harjanto belum bisa menjanjikan FTA antara Indonesia dan Uni Eropa. FTA dengan Uni Eropa masih sebatas rencana dan belum ada tindakan lebih lanjut antara kedua belah pihak.
"Makanya mereka (pelaku usaha TPT) ingin kita membangun FTA dengan Uni Eropa. Ini belum ada kesepakatan, perundingan pun belum dimulai baru rencana," sebutnya
(wij/hen)










































