"Sejak 2001-2011, laju impor gula kita mencapai 130,71%, atau naik 9,71% per tahun. Sangat tinggi," ujar Direktur International Trade Analysis and Policy Studies (ITAPS) Rina Oktabiani ditemui di kantor Institute Development for Economics and Finance (Indef), Jakarta, Kamis (26/3/2015).
Rina mengatakan, pada 2001 produksi gula nasional mencapai 1,8 juta ton dengan impor 240.122 ton. Namun pada akhir 2011, produksi gula nasional relatif stagnan di 1,82 juta ton sementara impornya mencapai 2,3 7 juta ton.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyebutkan, produksi gula nasional yang stagnan tidak lepas dari jumlah pabrik gula yang makin sedikit. Mesin-mesin yang digunakan bahkan masih banyak yang merupakan peninggalan masa kolonial Belanda.
"Jumlah pabrik gula kita jauh lebih banyak ketika di masa penjajahan. Pada 1930, jumlah pabrik gula mencapai 1.799. Sementara pada 2009 jumlahnya tinggal tersisa 61. Kemudian pada 2012 hanya nambah 1 menjadi 62," ungkapnya.
(rrd/hds)











































