Contohnya Widi, pemuda 16 tahun putus sekolah ini harus rela pendapatannya berkurang, lantaran makin sedikit pengunjung yang datang ke minimarket tempatnya biasa 'mangkal' di bilangan Jalan Raya Joglo, Jakarta Barat.
"Kalau ditanya jumlah orangnya berapa, nggak tau deh. Tapi kalau pendapatan berasa turunnya. Dari awal bulan nih sudah mulai terasa turunnya," tutur dia saat berbincang dengan detikFinance, Kamis (16/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun sejak minimarket tempatnya 'mangkal' tak lagi menjual minol, pendapatan Widi Cs berkurang hingga Rp 150 ribu, sehingga hanya bisa mendapat Rp 250 ribu saja dalam sehari.
"Biasanya yang pada beli bir mulai jam 09.00-12.00 malam. Nah yang dateng jam segitu mulai berkurang gara-gara sudah nggak jualan bir lagi. Padahal justru jam segitu lagi banyak-banyaknya. Dari tadinya bisa dapat Rp 400 ribuan, jadi cuma Rp 250 ribu sekarang. Terasa kan?" tuturnya sembari bertanya.
Ia sedikit bercerita, bahwa sejak minimarket dilarang berjualan minol, bukan berarti peredarang minol menghilang. Justru, lanjut dia, pecinta minuman ini beralih ke warung jamu yang lokasinya lebih tersembunyi.
"Di warung jamu ada. Tapi pilihannya nggak banyak. Sekarang di minimarket nggak ada, orang larinya ke tukang jamu," tutur dia.
(dna/dnl)











































