Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan Rusia tetap berkomitmen dengan rencana investasinya. Hal ini disampaikan JK usai Menerima Wakil Perdana Menteri Rusia Bidang Perekonomian Arkady Dvorkovich, di Kantor Wapres, Jakarta, Senin (20/4/2015).
"Di Kalimantan khususnya ada alumina, kereta api, tapi memang suatu kerja sama yang besar itu memang tidak mudah untuk kedua negara, karena ekonomi Rusia sama dengan ekonomi Indonesia sedang mengalami masalah-masalah, tapi mereka tetap konsisten melanjutkan dua proyek itu, alumina dan kereta api," kata JK.
Β
JK mengatakan belum tahu persis berapa nilai investasi dari Rusia untuk kedua proyek ini. "Ini kan baru survei saja dulu, setelah survei baru dihitung, ada FS-nya (feasibility study)," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pabrik baja pertama itu, masih berjalan sampai sekarang, walaupun sudah diperbaharui," katanya.
Pada 2011 lalu, Pihak Rusia berkomitmen membenamkan modal hingga US$ 2,5 miliar dalam proyek rel kereta angkutan batu bara melalui perusahaan Kereta Api Russian Railways sepanjang 300 Km.
Selain itu, ada komitmen investasi yang sudah dijanjikan lebih lama yaitu industri smelter alumina yang nilainya mencapai US$ 3 miliar oleh investor asal Rusia UC Russia Alumina (Rusal). Oleg Deripaska yang merupakan CEO Rusal, salah satu produsen aluminium besar di dunia, sempat datang ke Indonesia.
Rusal sempat menggandeg PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk merealisasikan investasi mereka. Head of Agreement (HoA) pembangunan tambang bauksit dan pabrik pengolahan di Kalimantan Barat sempat ditandatangani tahun 2007 lalu belum ada kelanjutannya.
(hen/hds)











































