Timah Tak Tambah Produksi Gara-gara Harga Masih Anjlok

Timah Tak Tambah Produksi Gara-gara Harga Masih Anjlok

- detikFinance
Kamis, 23 Apr 2015 14:46 WIB
Timah Tak Tambah Produksi Gara-gara Harga Masih Anjlok
Jakarta - PT Timah Tbk (TINS) melakukan berbagai upaya efisiensi untuk menyikapi harga timah dunia yang mengalami penurunan cukup tajam.

Saat ini, rata-rata harga timah sempat anjlok berada di level US$ 13.000 per ton. Padahal tahun lalu harga timah sempat capai titik tertinggi di US$ 23.500 per ton.

Atas dasar hal tersebut, perusahaan pelat merah ini tidak akan menaikkan produksi di 2015, yaitu tetap di kisaran 25.000-30.000 ribu ton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita menjual stok yang ada di 2014. Tahun ini hanya produksi 25.000-30.000 ton sebab kalau naikkan produksi bisa rugi karena Indonesia belum jadi penentu harga timah dunia," kata Direktur Utama Timah Sukrisno saat konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (23/4/2015).

Namun begitu, dia masih optimis jika harga timah masih akan membaik. Di triwulan kedua tahun ini harga timah diperkirakan bisa mencapai US$ 19.000-20.000 per ton, dan akan terus membaik di semester kedua hingga mencapai level US$ 22.000-24.000 per ton.

"Jadi rata-rata setahun harganya bisa di atas US$ 20.000 per ton. Kalau cost production bisa turun di bawah US$ 15.000 per ton, kita bisa untung lumayan gede," sebut dia.

Saat ini, Sukrisno menyebutkan, rata-rata produksi perseroan mencapai 50 kg per hari. Realisasi kuartal I-2015, produksi bijih mencapai 6.653 ton atau naik dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6.213 ton.

Sementara produksi logam di kuartal I-2014 sebesar 5.148 ton, dan 7.657 ton di kuartal I-2015. Angka penjualan di kuartal I-2015 mencapai 5.304 ton atau lebih tinggi dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4.319 ton.

Di samping itu, Sukrisno menambahkan, perseroan menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini sebesar Rp 120,97 miliar yang akan digunakan untuk kegiatan eksplorasi.

Selain itu juga untuk pembuatan kapal survey yaitu Kapal Geotin 4 dan sebelumnya perseroan telah memiliki 2 unit kapal eksplorasi. Pengadaan alat bor darat sonic, pengadaan alat bor mekanik, pengadaan alat bor CPP serta peralatan pendukung kegiatan eksplorasi lainnya.

"Investasinya Rp 30-35 miliar untuk satu kapal bor," kata Sukrisno.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads