Dari 63 pabrik gula yang ada di Indonesia, sebagian besar mesinnya sudah tidak maksimal bekerja.
"Mesinnya perlu diganti atau dirombak karena sudah tua," kata Muhammad Nur Khabsyin, Wakil Sekretaris Jendral APTRI di sela-sela acara Rakernas di Hotel Univesity Yogyakarta (UIN Sunan Kalijaga), di Sambilegi Maguwoharjo, Selasa (12/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita perlu merombak mesin karena ada kebocoran saat pengilingan tebu. Kadar gulanya turun," katanya.
Dia mengatakan saat ini rendemen masih berada pada 7%. Sementara di negeri tetangga seperti Thailand, rendemen tebu mencapai 12%. Artinya, mesin yang dipakai untuk mengolah bahan dasar tebu menjadi gula cukup bagus di negeri tetangga.
"Hasil tebu bagus kalau mesin pengolah tebu kondisinya juga bagus. Namun kalau mesin kurang baik, jadinya kurang maksimal," katanya.
Dia menambahkan untuk kebutuhan gula nasional saat ini sudah cukup. Sehinggga pemerintah tidak perlu melakukan impor gula untuk memenuhi kebutuhan gula nasional.
Menurutnya, impor gula rafinasi boleh saja asal sesuai kebutuhan industri. Prinsipnya jangan berlebih. "Untuk gula yang beredar di masyarakat tetap harus gula lokal milik petani," pungkas dia.
(bgs/dnl)











































