Hal itu diungkapkan sebagian dari mereka saat berkunjung ke showroom kerajinan rotan di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Menteri IKM dari negara Sudan, Zimbabwe, Nigeria, Timor Leste, Seychelles Laos dan negara-negara yang tergabung dalam Forum of SME's Afrika ASEAN ini melihat-lihat hasil kerajinan rotan karya tangan-tangan orang Indonesia.
Mereka tampak sangat antusias dan tak jarang dari rautnya mereka berdecak kagum melihat beragamnya produk-produk rotan dan kayu seperti meja makan, dinner set, lampu hias, ranjang tidur, dan produk lain yang dijual di Juno Home, salah satu showroom rotan di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bernstrong banyak bepergian ke luar negeri, dan tak jarang juga dia melihat produk-produk kerajinan kayu dan rotan untuk rumah tangga. Tapi di Indonesia, dia melihat sesuatu yang beda dari yang lain.
"Standarnya tinggi. Banyak produk-produk yang sama jika pergi ke Eropa, Asia atau ke mana saja, tapi di sini desainnya sangat berkelas. Unik, seperti ada ranjang layaknya untuk raja dan ratu, itu nggak bakal ditemui di mana kalau bukan di Jakarta ini," tuturnya.
Dari kunjungannya ini, Bersntrong mengaku mendapatkan pelajaran. Menteri yang mengembangkan entrepreneur dan IKM di salah satu negara di Benua Afrika ini melihat, semua sumber daya alam bisa dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi.
"Saya ketika pulang nanti akan mengedukasi masyarakat soal entrepreneur, dan menjadikan semua hal yang ada di halaman belakang bisa dijadikan sesuatu," tuturnya.
Meski tak membeli,Bernstrong cukup senang dan takjub melihat produk hasil Indonesia. "Kalau saya kembali lagi kemungkinan saya akan beli," jelasnya.
Setali tiga uang dengan Bernstrong, Shitehmbiso Nyoni Menteri UKM Zimbabwe menuturkan di negaranya, rotan dan kayu juga banyak digunakan perajin untuk menghasilkan sebuah produk. Namun bedanya, di sana belum begitu berkembang.
"Ini semua soal keterampilan," kata Nyoni.
(zul/ang)











































