"Orang terkaya nomor 1 dan 2 di Indonesia adalah pemilik industri rokok, sementara hidup petani terseok-seok," kata Direktur Indonesia Institute for Social Development, Sudibyo Markus, dalam peluncuran buku 'Petani Tembakau di Indonesia: Sebuah Paradoks Kehidupan'. Acara diadakan di Gedung Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (26/5/2015).
Menurut Sudibyo, ada 2 paradoks petani tembakau Indonesia. Pertama, petani tembakau tidak memiliki posisi tawar. Kedua, komoditas tembakau yang dihasilkan oleh petani justru dinikmati oleh industri rokok besar.
Di tempat yang sama, Peneliti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fauzi Ahmad Noor mengatakan, pendapatan 62% petani tembakau di Temanggung masih di bawah Rp 4 juta/panen.
"Penghasilan ini digunakan untuk dapat memenuhi kebutuhan sampai pada masa panen berikutnya. Selama 4 bulan petani hanya bisa berharap saat panen harganya akan tinggi," jelas Fauzi.
Cukup sedih, karena petani tembakau memang tidak memiliki posisi tawar. Saat panen, petani menjual tembakau ke pabrik rokok dengan harga yang sudah ditentukan oleh pabrik tersebut.
Β
"Kalau di luar pabrik ada yang jual lebih mahal, akan jual tembakau yang dibeli lebih tinggi. Harga masih ditentukan oleh grader atau pabrikan dan pengepul atau juragan," imbuh Fauzi.
(Wahyu Daniel/Angga Aliya)











































