Cerita Pilu Petani Tembakau: Sering Rugi, Padahal Harga Rokok Tak Pernah Turun

ADVERTISEMENT

Cerita Pilu Petani Tembakau: Sering Rugi, Padahal Harga Rokok Tak Pernah Turun

- detikFinance
Selasa, 26 Mei 2015 12:55 WIB
Jakarta - Meski orang terkaya di Indonesia merupakan pengusaha rokok, tapi bukan berarti kehidupan petani tembakau makmur. Penghasilan petani tembakau tidak sebaik yang dibayangkan.

Sukiman, seorang petani tembakau dari Klaten mengatakan, dirinya kini sudah beralih bertanam sayur. Alasannya, pendapatan tembakau yang tidak mencukupi.

"Dulu keluarga kami tanam tembakau, setelah itu kami pindah atas kemauan sendiri karena lahan saya yang sangat sempit, tidak akan cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sekolah anak-anak. Akhirnya saya beralih tanam sayur yang bisa dipanen sehari-hari," jelas Sukiman.

"Banyak warga kami banyak meniru upaya saya beralih ke sayur. Warga merasakan kalau tanam tembakau terus, kebutuhan sehari-hari tidak cukup. Maret-Agustus saat tidak panen mau makan apa. Petani tembakau di sana tinggal kurang dari 10 persen," tutur Sukiman dalam peluncuran buku 'Petani Tembakau di Indonesia: Sebuah Paradoks Kehidupan'. Acara diadakan di Gedung Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (26/5/2015).

Sukiman memiliki lahan 2.000 meter persegi di lereng Gunung Merapi. Bila menanam tembakau, dirinya seringkali khawatir harga tembakau murah, karena banyak juga petani yang menanam tembakau.

"Banyak kekhawatiran, biasanya saat kami panen banyak, tempat lain juga tanam bisa-bisa harga tembakau murah. Padahal harga rokok tidak pernah turun," curhat Sukiman.

"Petani di tempat saya, hasil panen langsung jual ke Temanggung. Di tempat saya, pedagang daun tembakau ada yang merugi sampai jual sapi dan kandangnya sampai rumahnya untuk nomboki usahanya. Ada apa ini soal tata niaga tembakau?" imbuhnya.

Di tempat yang sama, Henry Saragih dari Serikat Petani Indonesia juga bercerita soal pilunya nasib menjadi petani tembakau.
 
"Saya lahir dan dibesarkan di daerah perkebunan di Deli Serdang. Saya merasakan derita dari kuli kontrak tembakau. Di Sumatera Timur, rakyat tani di sana dampak dari masuknya tembakau yaitu kehilangan tanahnya," jelas Henry.

Dari tahun 1950-an, ujar Henry, kakeknya merupakan petani tembakau. Lalu di 1970-an berubah menanam cengkeh. Harga jatuh, beralih menanam buah-buahan.
 
"Petani itu rasional. Saat yang ditanam tidak menguntungkan akan beralih ke tanaman lain. Kita sudah terperangkap dalam sistem perdagangan yang membuat petani lemah. Petani tembakau diiming-imingi daun emas," kata Henry.



(Wahyu Daniel/Angga Aliya)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT