Padahal, kata pengusaha nasional Sandiaga Uno, saat ini kebutuhan pasar dan suplai teknologi dari para inovator seharusnya selaras dengan kebijakan pemerintah.
"Sekarang kan tidak sinkron, antara apa yang terjadi di akar rumput dan di level kebijakan," kata Sandiaga ditemui di sela Forum Inovasi Tekhnologi dan Konferensi Nasional Inovasi 2015 di Hotel Bidakara, Jakarta, (36/2015).
Acara tersebut, kata Sandiaga, bertujuan mewadahi produk-produk inovasi enterpreneur muda yang dihasilkan dari pembinaan yayasan Inotek milik Grup Saratoga agar bisa dikomersialkan atau dipakai industri nasional.
"Inotek kita lembaga yang mendukung terapan teknologi dan terapan tepat guna untuk membangun industri, kami mengkhususkan diri mendukung kegiatan inovator akar rumput sehingga temuan-temuan mereka bisa meningkatkan UKM dan bisa dipakai mereka," kata Sandiaga yang merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Inotek.
Ia mengakui, selama ini kebijakan yang dikeluarkan pemerintah masih jauh dari yang diinginkan para pelaku industri. Sehingga para inovator ini merasa tidak ada dukungan dari pemerintah.
"Enggak sinkron apa yang dilakukan pemerintah sekarang ini dirasakan masih belum sinkron apa yang dibutuhkan para pelaku dunia usaha khususnya para inovator. Jadi mereka rata-rata keluhanya pada kebijkan-kebijakan itu," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Saleh Husin, sepakat inovasi ini harus ditingkatkan untuk mempercepat pengembangan industri dalam negeri.
"Inovasi harus ditingkatkan untuk mempercepat pengembangan industri kita. Pertumbuhan industri non Migas tahun lalu kumulatif sebesar 5,36%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi (PDB) pada tahun lalu yang sebesar 5,01%," ujar Saleh.
Saleh mengatakan, cabang-cabang industri yang mengalami pertumbuhan tinggi pada tahun lalu adalah industri barang kayu dan hasil hutan sebesar 7,33%, industri makanan, minuman dan tembakau 7,24%, industri kertas 6,15%, serta mesin dan alat angkut peralatan sebesar 6,05%.
Kementrian perindustrian menargetkan pertumbuhan industri non Migas pada tahun ini mencapai 6,9%, dan kemudian tahun 2020 menjadi 8,73%. Sementara kontribusi non Migas pada PDB kita ditargetkan mencapai 20,94% tahun ini, dan 23,26% pada tahun 2020.
"Hingga tahun ini, daya saing ekonomi seperti daya saing inovasi Indonesia cukup menggembirakan dengan menduduki posisi 31 dari 144 negara, namun diukur dari kesiapan tekhnologi Indonesia berada di posisi 77," kata Saleh.
(ang/rrd)










































