Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Franky Sibarani mengatakan, meski dibangun di ujung Banten yang minim infrastruktur, investasi senilai US$ 600 juta atau sekitar Rp 7,8 triliun ini, merupakan bukti menggeliatnya investasi di Indonesia.
"Ini juga bisa menjadi penggerak ekonomi di Banten Selatan nantinya," tutur Franky ditemui di lokasi, Selasa (9/6/2015).
Franky mengatakan, letak dari pabrik ini terhitung masih desa tertinggal, karena tak ada akses jalan yang tergolong bagus juga minimnya infrastruktur listrik. Franky menyebut, elektrifikasi listrik di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak masih 76%.
"Saya melihatnya dari sisi yang pertama daerah sini itu masuk dalam kategori desa tertinggal. Kita memang bangun dari perbatasan dan daerah tertinggal. Seperti yang saya sampaikan itu, tak ada investasi tanpa dukungan pemerintah daerah. Ada beberapa catatan. Mengenai listrik dan jalan," tutur Franky.
Akses jalan menuju kawasan yang juga merupakan pbjek wisata pantai Sawarna ini memang mengkhawatirkan. Jalannya rusak parah, dan terjal.
Ditemui terpisah, pihak dari Cemindo Gemilang melihat minimnya infrastruktur menjadi peluang bagi perusahaan untuk berinvestasi. Komisaris Cemindo, Vince Indigo mengatakan, pihaknya berharap, perbaikan jalan yang bakal dilakukan pemerintah atau pemerintah derah di kawasan tersebut bisa menggunakan pasokan semen dari Cemindo.
"Selain itu juga di sini dekat dengan pantai, ada pelabuhan jadi mudah untuk kirim produk. Juga dekat dengan bahan baku batu kapur," tuturnya.
(zul/ang)











































