Dari foto yang didapat detikFinance dari BUMN PT Timah, nampak sejumlah kapal-kapal penambang ilegal di laut lepas provinsi Bangka Belitung. Sekilas, mereka seperti gerombolan prajurit perang di film kolosal, karena jumlahnya sangat banyak, yang secara massal mengeruk timah secara ilegal.
"Sekarang jumlahnya sekitar 1.640 kapal. Dulu lebih banyak lagi," tutur Direktur Utama PT Timah, Sukrisno kala berbincang dengan detikFinance beberapa waktu lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Satu kapal tersebut biasanya ditumpangi 4 orang, yang punya tugas masing-masing. Ada yang bertugas mengendarai, ada juga yang menyelam untuk mengeruk pasir timah di dasar laut dengan menggunakan kompresor. Mereka menggunakan alat seadanya.
Anehnya, mereka yang menambang adalah orang pendatang, hanya sedikit dari warga sekitar. Sukrisno menuturkan, biasanya penambang ilegal itu tinggal di dengan membangun tenda-tenda layaknya sedang berkemah.
"Palembang, Buton, Jawa dan sebagainya. Warga Babelnya sedikit sekali. Itu terindikasi, kalau mendekati lebaran itu hilang, karena pulang kampung semua. Dia buat tenda-tenda di situ," katanya.
"Mereka pakai ponton disebutnya. Bukan kapal tapi itu drum-drum yang disambung-sambung," tutur Sukrisno.
Praktik penambangan ilegal di laut, lanjut Sukrisno terjadi secara terang-terangan. Jelas saja jika dilihat dari penampakannya, ponton-ponton tersebut berbaris rapi di lepas laut.
Mereka, lanjut Sukrisno, tidak mengedepankan standar keselamatan. Alat seadanya, mengeruk dengan menyelam dan menggunakan kompressor jelas berbahaya. Tak sedikit juga yang menurutnya harus meregang nyawa akibat kecelakaan kerja.
"Tapi menurut mereka itu resiko bekerja," tuturnya.
(zul/rrd)











































