Timah Babel Diduga Banyak Diselundupkan ke Malaysia dan Thailand

Timah Babel Diduga Banyak Diselundupkan ke Malaysia dan Thailand

Wiji Nurhayat - detikFinance
Senin, 22 Jun 2015 14:24 WIB
Timah Babel Diduga Banyak Diselundupkan ke Malaysia dan Thailand
Jakarta - Timah-timah asal Indonesia, khususnya dari Bangka Belitung (Babel) termasuk dari Riau, dan Kepulauan Riau diduga banyak diselundupkan ke Thailand dan Malaysia.

Thailand dan Malaysia memproduksi logam timah dalam jumlah besar padahal area eksplorasi tambang bijih timah relatif sedikit dibandingkan Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Eksportir Timah Indonesia, Jabin Sufianto menduga ‎tak sedikit hasil tambang yang ada di Indonesia diselundupkan ke negara-negara tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia mencontohkan bila satu negara bisa mengeksplorasi pasir timah‎ 3.000 metrik ton, maka hasil logam timah yang diproduksi tak akan jauh dari angka tersebut.

"Taruh lah Thailand produksi pasirnya 1.000 metrik ton, mereka produksi 20.000 metrik ton lebih tahun lalu. Itu dari mana?" tanya kepada detikFinance beberapa waktu lalu.

Jabin mengatakan, di Dabosingkep, Pangkalpinang Kepulauan Riau, eksplorasi tambang timah terus berjalan. Namun anehnya, tak ada data yang menunjukkan ada pasir timah yang diekspor dari daerah tersebut. ‎Jabin yakin, hasil tambang tersebut diselundupkan ke Malaysia atau Thailand.

"Ke mana? Coba lihat data Malaysia dan Thailand mereka ada dua smelter besar di sana. Malaysia menambang 4.500 ton pasir per tahun. Tahun lalu mereka lebih dari PT Timah produksinya 36.000 metric ton. Mereka declare mereka beli dari Australia, Kongo. Tapi dari semua negara produsen itu dijumlahkan saja masih saja yang tak cukup, dari mana kalau nggak dari Indonesia," tambahnya.

‎Senada dengan Jabin, Direktur Utama PT Timah Sukrisno mengatakan sulit untuk membuktikan penambang ilegal menyelundupkan pasir timah ke kedua negara tersebut. Namun dia cukup yakin bahwa masalah itu adalah benar.

‎"Tetangga kita seperti Thailand, Malaysia, meskipun produksi bijih timahnya itu sedikit, tapi bisa ekspor itu puluhan ribu ton. Saya bilang dari mana ini, saya bilang jangan-jangan. Ini dari Babel. Karena saya sulit membuktikan penyelundup ini kalau tidak ditangkap," paparnya.

Sukrisno juga menduga, salah satu modus penambangan ilegal yang dilakukan di kapal ponton di laut lepas disokong oleh Malaysia dan Thailand. Menurutnya, tak mungkin orang biasa bisa membeli alat untuk melakukan penambangan di laut meski ala kadarnya.

‎"Di laut itu ada cukongnya. Yang kerjanya orang kita, yang di belakangnya itu orang asing. Kalau nggak Thailand itu ya Malaysia. Karena dari data internasional," tuturnya.

PT Timah juga sebagai produsen timah terbesar di Indonesia menegaskan sama sekali tak pernah mengekspor hasil tambangnya ke kedua negara tersebut.

Hal tersebut diperkuat dari data yang didapat detikFinance. Organisasi yang bergerak di bidang industri dan pasar timah dunia, ITRI menyebut, Thailand di 2014 tak memproduksi bijih timah, tapi anehnya mampu memproduksi logam timah yang sudah jadi sebanyak 16.110 metrik ton.

Begitu juga dengan Malaysia, ‎yang hanya memproduksi bijih timah sebanyak 3.610 metrik ton namun bisa memproduksi sampai 32.190 metrik ton timah jadi. Sukrisno mengatakan, produksi bijih timah jika diolah dan dikonversi menjadi logam timah, hasilnya tak akan beda jauh.

"Kalau 3.500 ton ya 3.500 ton itu maksimal. ‎Jadi nggak mungkin itu jadi 10.000 ton," katanya.

Sedangkan Indonesia di tahun 2014 lalu memproduksi biji timah sebanyak 86.350 metrik ton, dan diolah menjadi logam timah sebanyak 66.000 metrik ton.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads