Sebanyak 95% komoditi penting untuk industri elektronik ini diekspor ke berbagai negara, karena kebutuhan dalam negeri hanya 5% dari total produksi logam timah tahun lalu sebanyak 66.000 metric ton (MT). Banyak yang membutuhkan timah asal Indonesia, karena China sebagai produsen terbesar menggunakan hampir seluruh hasil produksinya di dalam negeri.
Di perdagangan timah, tidak seperti perdagangan pada umumnya, di mana penjual dan pembeli bisa bebas bertransaksi, atau menentukan harga dan bernegosiasi semau kedua belah pihak. Harga timah sebagai komoditas ditentukan oleh bursa yaitu London metal Exchange (LME) dan Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX). Timah yang boleh dijual di bursa ini saat ini adalah timah ingot atau batangan yang statusnya clean and clear.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu lah yang saya sampaikan, masa kita sebagai eksportir terbesar, mengikuti harga London. Makanya sekarang ditunjuk ICDX. Tapi kalau dibilang belum kredibel, iya dibandingkan LME yang sudah puluhan tahun," kata Sukrisno kala berbincang dengan detikFinance beberapa waktu lalu.
Sukrisno mengatakan, saat ini harga timah berada di kisaran US$ 15.300 per MT. Harga di bursa ICDX dan LME tak begitu terpaut jauh. Meski begitu, tetap saja produsen atau si penjual tak bisa menjual di luar harga tersebut.
"Pembeli juga pasti ngikut harga London. Kalau kita nggak jual mengikuti itu, kita akhirnya nggak laku," tuturnya.
Senada dengan Sukrisno, Ketua Umum Asosiasi Eksportir Timah Indonesia, Jabin Sufianto mengatakan, produsen tak bisa seenaknya menetapkan harga karena akan berimbas pada tidak lakunya produk. Dia mengatakan, jika pemerintah ingin Indonesia bisa menentukan harga timah sendiri, pengusaha harus diberi jaminan barangnya akan laku, atau menumbuhkan industri dalam negeri agar permintaan selalu ada.
"Kita perlu cashflow. Timah ini bukan hal yang murah. Kalau kita nggak ada stand by buyer nggak usah mimpi jadi penentu harga," jelasnya.
"Dari dulu kita sudah beberapa kali, kita tanyakan. Kalau emang serius, kasih kita pendanaan dong bunga rendah. Kita mau nahan barang kita berani, kita nggak ada pemakaian dalam negeri. 5% pun nggak. Kalau nggak ada pembeli di Indonesia terus kita mau dikte harga, bisa nggak," tegasnya.
(zul/rrd)











































