Logikanya, seharusnya ponsel yang dibuat di dalam negeri bisa lebih murah dibanding produk impor. Tapi kenyataannya, tidak. Ponsel yang dibuat di dalam negeri justru lebih mahal ketimbang ponsel impor, meski tipe, bentuk, atau produknya sama persis.
"Kalau yang harga di dalam negeri lebih mahal," tutur Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Ignasius Warsito kepada detikFinance, Kamis (25/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bea masuk impor produk jadi saat ini adalah nol persen. Artinya, ponsel batangan yang sudah jadi dari luar negeri bebas bea impor.
Sementara untuk ponsel yang dirakit di dalam negeri, kena bea masuk impor komponen 5-10%. Itu berarti, ada biaya tambahan yang ditanggung produsen di dalam negeri,
Warsito menyebut, 80% komponen produksi ponsel di dalam negeri masih diimpor, jadi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN)-nya baru mencapai 20%, dan akan ditingkatkan menjadi 30% di 2017.
"Jadi kalau bicara normatif, yang diproduksi dalam negeri itu lebih mahal. Kalau tidak ada insentif yang diberikan, di dalam negeri itu ongkos produksinya akan lebih mahal," tuturnya.
Perihal harga yang ditetapkan, menurut Warsito, tergantung dari distributor atau pihak penjual yang mendapat kiriman barang oleh produsen. "Kalau distribusi volumenya besar, itu akan lebih efisien,"
Pemerintah, menurutnya, sudah memberikan berbagai insentif pajak bagi produsen agar biaya produksi di dalam negeri bisa lebih murah. Namun, hal tersebut masih belum bisa membuat biaya produksi dan harga ponsel itu lebih murah.
(zul/dnl)











































