Bahan baku PT Biofarma (Persero) saat ini masih impor. Tingginya kurs dolar Amerika Serikat (AS) memberatkan biaya pembelian bahan baku perusahaan pelat merah tersebut.
Meski demikian, Direktur Keuangan Biofarma Pramusti Indrascaryo mengatakan, biaya impor bahan baku Biofarma setara 35% dari portofolio pembiayaan. Sedangkan ekspor produk Biofarma lebih dari 65%.
"Jadi sebetulnya selisih kurs yang memberatkan pembelian bahan baku, tertolong oleh ekspor kita. Jadi itu semacam natural hedge-nya," katanya ketika ditemui di kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (29/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan, saat ini Biofarma menjadi satu-satunya produsen vaksin polio yang menjual produknya hingga ke seluruh dunia.
"Perkembangannya relatif bagus. Kami bisnis di bidang kesehatan, jadi keuntungan tidak hanya secara nominal. Bagi kami, Biofarma bisa mengisi mayoritas kebutuhan pasar dunia, itu sudah kebanggaan," ujarnya.
Perusahaan milik negara itu berniat menambah kapasitas produksinya dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Perseroan juga akan meluncurkan beberapa produk baru.
"Tahun ini kami melaunching Vaksin Pentavalen, sebuah produk kombinasi dari 5 vaksin. Vaksin ini kami sangat senang karena tahun ini telah teregistrasi WHO. Artinya, produk ini bisa masuk pasar ekspor. Kami sedang gencar-gencarnya mengurus registrasi ke negara-negara tujuan eskpor Vaksin Pentavalen ini," katanya.
(ang/hen)










































