Direktur Utama PT Timah Sukrisno mengatakan, untuk melancarkan proyek ini, PT Timah bekerjasama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Penelitian untuk mengolah rare earth dari pasir monazite dilakukan cukup lama.
"Penelitiannya bukan berbulan-bulan ini, tapi butuh bertahaun-tahun," tutur Sukrisno kepada detikFinance, Selasa (7/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukrisno mengatakan, saat ini pabrik yang bisa memproduksi 50 kg pasir monazite dalam sehari itu baru tahap comissioning, artinya dalam tahap penyelesaian. Biasanya tahap comissioning berlaku saat pabrik sudah beroperasi namun belum ada beban yang diproduksi.
"Saya sudah cek, berhasil comissionong. Ini baru awal, nggak sampai dua minggu selesai. Saya harap Agustus sudah selesai," tuturnya.
Jika sudah berhasil dan beroperasi secara komersial, lanjut Sukrisno, PT Timah akan mengembangkan proyek ini menjadi sebuah proyek yang lebih besar. Mengenai bahan baku pun nantinya tak akan terus mengandalkan mineral ikutan dari penambangan timah.
"Memang sekarang kita mengolah apa yang kita punya dari mineral ikutan dari proses pertimahan. Ke depannya kita harus nambang yang namanya logam tanah jarang. Kalau sudah proyek itu memang harus besar. Nggak mungkin nanti kalau masih kecil, akan stagnan pabriknya. Kalau minggu ini sudah oke, dari segi kapasitas, barangkali nggak sampai awal Agustus, itu sudah komersial," jelasnya.
Sukrisno menyebut, 50 kg monazite tak bisa seluruhnya menjadi tanah jarang atau rare earth. Ada 12 elemen yang terkandung di dalam pasir monazite, salah satunya adalah rare earth. Juga uranium dan thorium.
(zul/rrd)











































