Direktur Utama PT Timah, Sukrisno mengatakan, saat ini, China merupakan negara yang paling besar punya produksi tanah jarang, namun hampir seluruh produksinya tersebut adalah untuk kebutuhan dalam negeri.
"Sekarang hanya China yang sudah produksi ini. Logam timahnya juga kan China, Indonesia nomor dua," tutur Sukrisno kepada detikFinance, Selasa (7/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti akan dijual ke Jepang dan Korea, ini kan rebutan, banyak. Marketing sudah tawarkan ke mana-mana, karena ini barangnya langka jadi ini rebutan," tambah Sukrisno.
Sebelumnya, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Djarot S Wisnuborot pun mengatakan hal senada. Karena langka dan jadi rebutan, perusahaan asing dan swasta di dalam negeri pun berlomba untuk bisa mengolah dan memproduksi tanah jarang di Indonesia.
"Bakrie juga pengen. Lalu Mitsubsihi ingin juga karena untuk keperluan industri otomotif mereka," tuturnya
(zul/rrd)











































