Ada cerita unik dari sekian banyak perusahaan yang hengkang dari Batam itu. Yakni, saat satu per satu manajemen 'hilang' dalam satu malam.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Kepulauan Riau, Cahya mengatakan, ada sejumlah perusahaan yang pada awalnya mengiyakan atau menyetujui tuntutan dari para buruh, baik mengenai kenaikan upah, tunjangan. dan lainnya. Namun, tak lama tuntutan tersebut disetujui, manajemen pun kabur dari Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cahya mengatakan, hal itu dilakukan karena perusahaan tersebut tak kuat menghadapi demo yang dilakukan ratusan bahkan ribuan buruh di Batam.
"Itu mereka saking kesalnya," tutur Cahya.
Cahya menyebut, perusahaan itu berpikir lebih baik meninggalkan aset pabrik beserta mesinnya, ketimbang harus melakukan PHK seluruh karyawannya dan memberikan pesangon, karena biaya yang dikeluarkan akan lebih banyak saat mereka memberikan pesangon.
"Mesin aset itu ada Rp 2 miliar. Dia PHK Rp 20 miliar lebih. Itu begitu kami cek, dia relokasi ke Filipina. Artinya mereka bukan bangkrut. Tapi saking kesalnya (mereka pindah)," tutupnya.
(zul/dnl)











































