Menteri Perindustrian Saleh Husin menilai kondisi ini sebenarnya hanya akan merugikan para buruh sendiri. Sebab ketika perusahaan hengkang, maka buruh akan hilangnya kesempatan bekerja.
"Akibatnya sekarang justru akan menghilangkan kesempatan bekerja," terang Saleh di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (8/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demonstrasi memang merupakan hak bagi para buruh. Tapi inti dari aktivitas tersebut adalah penyampaian aspirasi. Bila dengan komunikasi mampu menyampaikan aspirasi, tentu aksi yang merugikan banyak pihak tidak akan terjadi.
"Tapi kalau masalahnya memang sering karena banyak demo, tentu kita harus berbicara bagaimana untuk penanganan agar demo tidak sampai meresahkan para investor," ungkapnya
Ditempat yang sama, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani melihat ini bukan hanya sekedar persoalan penetapan upah dan jaminan oleh buruh terhadap perusahaan. Melainkan tarik menarik investor antar negara secara regional.
"Fenomena di batam itu tidak mutlak dari sisi permasalahan di dalam negeri. Tapi akan tentu kita akan angkat menjadi masalah di regional. Kalau misalnya 3-4 perusahaan itu dia hengkang dari Indonesia dan itu sebagian PMA, menjadi pertanyaan bagi kita, iya kan," ungkapnya.
Franky menjelaskan, perebutan investor antar negara adalah bagian dari kompetisi. Tentu banyak upaya yang dilakukan oleh pihak negara lain untuk menarik investor. Tak terkecuali memanfaatkan kekuatan buruh.
"Dalam era kompetisi global atau regional tentu sekarang ini adalah era untuk menarik investasi. Investasi itu kan selain dari insentif dari pada sektor dan infrastruktur yang disediakan, sampailah potensi persaingan yang lain, yaitu sesama negara, antar negara," jelasnya
Dalam keyakinannya, Franky mengatakan investor yang hengkang dari Indonesia tidak akan jauh-jauh mencari lokasi baru. Karena pasar yang dituju tetaplah Asia Tenggara dan sekitarnya.
"Mereka dalam risetnya itus udah menetapkan Asean dan indonesia adalah sesuatu kawasan yang perspektif untuk investasi. Jadi kalau keluar dari Indonesia berarti keluarnya ke mana. Saya yakin pasti di negara tetangga," tegas Franky.
(mkl/rrd)











































