Industri RI Kalah Saing Karena Impor Ilegal, Energi dan Bunga Kredit Mahal

Industri RI Kalah Saing Karena Impor Ilegal, Energi dan Bunga Kredit Mahal

Muhammad Idris - detikFinance
Jumat, 17 Jul 2015 17:20 WIB
Industri RI Kalah Saing Karena Impor Ilegal, Energi dan Bunga Kredit Mahal
Foto: Menperin Saat Open House di Rumah Dinas (Idris-detikFinance)
Jakarta - Di tengah perlambatan ekonomi dunia saat ini, sektor industri di Indonesia harus bisa meningkatkan daya saingnya. Setidaknya ada 3 hal yang membuat industri dalam negeri kalah saing.

"Kita tahu perlambatan ekonomi global berpengaruh sekali pada ekonomi dalam negeri, berbagai langkah salah satunya kita koordinasi dengan instansi terkait," kata Menteri Perindustrian, Saleh Husin, saat open house di rumah dinasnya, Kompleks Widya Candra, Jakarta, Jumat (17/7/2015).

Saleh mengatakan, masalah pertama yang harus dikendalikan pemerintah adalah soal impor barang ilegal, yang masih banyak terjadi di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Masih banyak ilegal. Ini kan sangat pengaruh yang (impor) pakaian bekas, contohnya kan mempengaruhi industri tekstil kita. Banyak pelabuhan-pelabuhan tikus. Harus kita kurangi," ujar Saleh.

Kemudian ada 2 ongkos atau biaya industri yang harus diturunkan di Indonesia, agar daya saing bisa meningkat.

Biaya yang harus diturunkan, ujar Saleh, adalah biaya energi, seperti gas dan listrik. "Kita tahu energi kita tinggi biayanya. Kalau bandingkan negara tetangga cukup jauh, harga energi kita nggak bersaing," jelas Saleh.

Lalu tingginya bunga kredit bank. "(Bunga kredit) cukup tinggi. Ini akan buat indutri kita kalah, makanya ini harus saya perjuangkan," ungkap Saleh.

Untuk menyelesaikan ini, Saleh mengatakan, dia sudah mengajak kementerian lain untuk berkoordinasi.

Selain itu, dia juga bekerjasama dengan Universitas Indonesia (UI) untuk membuat perhitungan soal penurunan harga energi dan dampaknya terhadap pengurangan pendapatan negara.

"Kalau harga gas turunkan US$ 1 saja, maka ada loss (kerugian) negara karena ada pengurangan pendapatan negara Rp 8 triliun. Tapi akibat itu, industri kita malah naik, industri bisa sumbang buat negara dari pajak Rp 12 triliun. Kan untung tuh negara Rp 4 triliun dari selisihnya. Saya akan bawa ini usul penurunan harga ini ke Menko Perekonomian," papar Saleh.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads