"Ada yang menarik dari shock nilai rupiah mencapai Rp 14.000/US$, rupanya fenomena tersebut menarik investor sektor baja. Data investasi sektor baja naik 100% year on year (yoy) dari semester 1-2014 ke semester 1-2015," tutur Franky ditemui di Gedung Suhartoyo, BKPM, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (31/8/2015).
Franky menjelaskan, investasi di sektor industri baja berjalan lancar, bahkan beberapa investasi baru pun masuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah kondisi ekonomi global melambat, menurut Franky, Indonesia masih potensial sebagai negara tujuan investasi utama di ASEAN. Investor melihat gejolak yang terjadi saat ini tidak dilihat dalam jangka pendek.
"Kita bicara jangka panjang. Investasi sekarang baru bisa beroperasi 2 tahun lagi. Investor pun melihatnya demikian, mereka berfikir jangka panjang kondisi ekonomi Indonesia dengan tingginya investasi akan membaik. Begitu juga dengan kondisi politik Malaysia. Investor melihat itu jangka pendek dan investasi ke Indonesia tetap jalan," katanya.
(rrd/rrd)











































