Pengakuan Perajin Tempe: Senang Kedelai Lokal daripada Impor

Pengakuan Perajin Tempe: Senang Kedelai Lokal daripada Impor

Lani Pujiastuti - detikFinance
Senin, 31 Agu 2015 18:46 WIB
Pengakuan Perajin Tempe: Senang Kedelai Lokal daripada Impor
Jakarta - Perajin tempe tahu khususnya di Jabodetabek masih mengandalkan pasokan kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan produksinya yang mencapai 150.000 ton kedelai tiap bulan. Padahal perajin mengakui kualitas kedelai lokal lebih unggul dibanding kedelai impor dari sisi rasa, lebih legit dan segar.

Seandainya kebutuhan kedelai perajin tahu tempe sepenuhnya bisa dipenuhi dari dalam negeri pun perajin siap serap dan pakai kedelai lokal. Namun faktanya dari 2 juta ton impor kedelai per tahun, sebanyak 90% diserap oleh perajin tahu dan tempe.

"Kalau misal itu kedelai lokal sudah ada 2,5 juta ton ngga usah impor. Kita mau pake lokal," jelas Ketua Gakoptindo Aip Syarifuddin ditemui di Kementerian Perindustrian, Senin (31/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedelai lokal, menurutnya, punya beberapa keunggulan dibanding kedelai impor untuk dijadikan bahan baku tempe maupun tahu.

"Kedelai lokal kulitnya lebih tipis jadi kalau dimasak lebih cepat matang. Rasanya lebih fresh. Kedua dia punya aroma itu lebih harum. Rasanya lebih legit. Lalu kandungan air lebih banyak. Kalau dibikin tahu kedelai lokal jauh lebih bagus dibanding impor," kata Syarifuddin.

Produksi kedelai lokal yang hanya berkisar 500-600 ribu ton per tahun belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan perajin. Selama mengandalkan kedelai impor, perajin tahu tempe perlu terus waspada dengan gejolak yang ada di pasar komoditas khususnya kedelai dunia. Hasil panen dan harga kedelai AS sangat memengaruhi pasokan dan harga kedelai impor di Indonesia.

Saat harga kedelai impor naik, perajin tidak bisa langsung menaikkan harga tempe dan tahu.

"Ada beberapa teman-teman kita akhirnya mengurangi ukuran tahu tempe. Tapi kalau bisa jangan naik harga produk. Kami dari Gakoptindo berupaya betul supaya bobotnya sama, tapi lebih bersih lebih baik, lebih sehat dah harganya sama," ujar Syarifuddin.

Pada September mendatang merupakan masa panen kedelai AS. Harga kedelai dunia diprediksi bakal segera turun karena panen bagus. Hal ini dilihat dari dua sisi yang kontradiktif oleh Gakoptindo.

"Kalau bagi perajin tahu tempe itu positif. Harga kedelai turun. Tapi kalau untuk petani negatif. Kedelai lokal akan lebih ngga laku. Kan kasihan," imbuhnya.

Setelah kedelai lokal nantinya berhasil diserap Bulog pun, perajin masih punya tantangan kelemahan kedelai lokal. Kedelai lokal masih punya kelemahan karena punya ukuran tidak standar.

"Kedua, petani kedelai lokal masih kurang terlatih, pasca panen masih banyak material ikutan kedelai ada dahan, ranting. Kadang campur tanah, terus kita mesti bawa. Kalo kedelai impor kan sudah bersih sudah dikarungin kita tinggal bawa," terangnya.

Perajin saat ini masih sangat rentan terpengaruh harga impor terutama karena harga internasional dan kurs dolar AS. Kenaikan harga kedelai berdampak berkurangnya pendapatan perajin. Saat ini kenaikan harga kedelai impor dari Rp 7.000/kg ke 7.200/kg.

"Tapi lihat akumulasinya bikin satu ton. Naik biaya Rp 200 ribu. Itu pengurangan pendapatan. Kita produksi tempe hasilnya untuk dimakan besok. Produksi lagi, dimakan lagi besok. Tidak ada cerita perajin tempe mau investasi, mau deposito," keluhnya.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads