Selama 5 Tahun, KAI dan Pelindo II Tak Pernah Sepakat Soal Rel 'Mati' Priok

Selama 5 Tahun, KAI dan Pelindo II Tak Pernah Sepakat Soal Rel 'Mati' Priok

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Kamis, 10 Sep 2015 15:57 WIB
Selama 5 Tahun, KAI dan Pelindo II Tak Pernah Sepakat Soal Rel Mati Priok
Rel Mati di Priok (Feby-detikFinance)
Jakarta - Rencana menghidupkan rel 'mati' di Pelabuhan Tanjung Priok sudah muncul sejak 5 tahun silam. Namun rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) membangkitkan rel 'mati' ini tak pernah disetujui Pelindo II selaku operator.

Jalur kereta hanya berhenti di daerah Pasoso, di luar Pelabuhan Priok, padahal di dalam pelabuhan telah ada jalur kereta sejak zaman kolonial Belanda. Jalur kereta itu sekarang tertutup beton dan berstatus 'mati'.

Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli hari ini memulai penghancuran beton yang menutup rel kereta, dan mengaktifkan rel kereta untuk menyelesaikan hambatan arus barang (dwell time).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setahu saya sudah 5 tahun dibahas, tapi nggak selesai," kata Direktur Utama KAI, Edi Sukmoro, saat ditemui di Pelabuhan Priok, Jakarta Utara, Kamis (10/9/2015).

Dahlan Iskan, saat menjabat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pernah memediasi pertemuan antara KAI dan Pelindo II, namun kedua BUMN tidak memperoleh titik temu.

Kini, nasib kereta pelabuhan menuai titik terang, lewat 'kepretan' Rizal Ramli. Aksi Rizal dipercaya bisa mempercepat pembangunan kereta pelabuhan. Sejalan dengan aksi Rizal, KAI saat ini sedang melakukan proses pembebasan lahan warga di luar pelabuhan. Total jalur yang akan direaktivasi dari Pasoso sampai ke dalam pelabuhan sepanjang 1,2 kilometer (km). Proses pembangunan memerlukan waktu 2 bulan.

Di tempat yang sama, Deputi Bidang SDA dan Jasa Menko Maritim dan Sumber Daya, Agung Kuswandono menyebut, pihaknya harus melakukan aksi pembongkaran karena pembahasan selalu menuai jalan buntu. Bila mengundang Pelindo II, ia memastikan proses pembangunan rel akan terhambat.

"Tidak undang Pelindo karena pasti akan ada penolakan. Zaman Belanda, lini 1 (dalam pelabuhan) ada kereta akan dibangkitkan," jelasnya.

Saat bertugas di daerah Priok pada 2007, Agung menyebut rel di dalam pelabuhan sudah ditutup. Dengan reaktivasi, ia optimistis kemacetan di dalam dan luar pelabuhan bisa terurai.

"Satu rangkaian kereta bisa bawa 60 kontainer. Kemacetan bisa berkurang signifikan. Kami berpikir nasional, nggak pikir rugikan Si A atau Si B," tegasnya.

(feb/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads