detikFinance menelusurinya ke daerah yang paling legendaris sebagai sentra kompor minyak pada masanya yaitu Cawang. Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, ke mana lagi mencari kompor minyak kalau bukan ke Cawang. Saking legendarisnya, kompor melekat pada nama daerah ini menjadi Cawang Kompor.
Sepanjang Jalan Dewi Sartika terutama di perempatan Cawang Kompor menuju Jalan MT Haryono, Jakarta Timur kita bisa lihat deretan penjual perabot dapur berbahan stainless. Mundur empat dekade lalu, deretan penjual tersebut bermula dari penjual kompor minyak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun 1990-an menjadi era kejayaan kompor made in Cawang. Kala itu, jumlah perajinnya mencapai belasan orang. Saat ini hanya tersisa satu keluarga dari dua generasi.
"Usaha kompor minyak ini udah dari tahun 1977. Dulu terkenal kan sampai mana-mana. Sudah dua generasi. Sekarang ya tinggal satu-satunya ini yang bikin kompor. Ada kurang lebih tinggal 5 orang. Saya, kakak, sama teman," ujar Aziz, perajin kompor di Ronny Cawang Kompor kepada detikFinance, Cawang, Jakarta Timur, Minggu (13/9/2015).
Aziz menceritakan mulanya di era kejayaan penjualan kompor minyak pada 1990-an di daerah tersebut perajin kompor mencapai belasan orang. Saat ini tersisa Aziz dan 4 orang lainnya di satu toko.
"Dulu setiap toko di sini 90% jualan kompor. Masing-masing punya tukang. Ya ada sekitar belasan. Sebelum konversi itu kita bisa jualan kompor sehari 10, sekarang seminggu 10 aja sudah banyak. Pernah juga nggak keluar sama sekali sebulan," tutur Aziz.
Perajin lain, Suria mengungkapkan masih ada seorang perajin yang eksis membuat kompor sejak 1977 sampai saat ini.
"Ada yang paling tua usia 60 tahun. Dia bikin kompor dari tahun 1970-an. Tukang kompor paling lama dia. Sekarang bikin yang lainnya juga selain kompor," jelasnya. Sayangnya, perajin tersebut sedang tidak ada di tempat.
Aziz dan kawannya masih membuat kompor minyak sebab meski sebagian besar sudah konversi ke elpiji, namun masih ada warga Jakarta maupun dari daerah yang mencari kompor minyak.
"Kita masih tetap bikin buat stok saja meskipun sedikit. Soalnya orang Jakarta pun masih ada yang cari, seperti pedagang, ibu rumah tangga, sampai pesanan dari TNI buat dikirim ke perbatasan," tuturnya.
Kini para perajin di daerah Cawang Kompor mencoba tetap eksis. Mereka mencari akal dan kreatif memenuhi apapun pesanan yang akhirnya mengubah rupa daerah ini menjadi sentra perabot stainless, logam dan alumunium.
"Kalo nggak begitu kita ngga eksis. Ngandelin (mengandalkan) kompor doang yang pesenannya cuma ramai Lebaran saja suka banyak yang nanyain (menanyakan). Kudu (harus) cari akal biar tetap jalan. Sekarang lebih cocok disebut sentra perajin perabot stainless, logam, alumunium," ujar Suria.
(ang/ang)











































