Jaga Bisnis Warisan, Pria Ini Masih Produksi Kompor Minyak

Jaga Bisnis Warisan, Pria Ini Masih Produksi Kompor Minyak

Lani Pujiastuti - detikFinance
Minggu, 13 Sep 2015 12:50 WIB
Jaga Bisnis Warisan, Pria Ini Masih Produksi Kompor Minyak
Foto: Lani/detikFinance
Jakarta - Bagi Aziz, menjadi penerus perajin kompor minyak di tengah masyarakat yang sudah meninggalkan minyak tanah bukan pekerjaan mudah. Tidak sedikit perajin lain yang akhirnya banting setir pilih usaha lain.

Beberapa mencoba tetap eksis dengan berganti dagangan menjadi oven, panci (dandang), pemanggang, ventilator hingga kubah masjid.

Aziz diwarisi ketrampilan membuat kompor oleh ayahnya. Ayahnya sudah menjadi perajin kompor sejak 1977 di daerah sentra perajin kompor minyak yang melegenda yaitu Cawang Kompor.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Demikian halnya dengan Rizal. Usianya baru 21 tahun, tapi ia mengaku sejak SMP sudah diajak orang tuanya berjualan kompor di toko Fahmi Kompor.

"Ini turun-temurun dari kakek ke ayah saya. Ayah saya udah meninggal terus turunkan ke kakak saya. Jadi bikin kompor udah sejak sebelum saya lahir," ujar Rizal kepada detikFinance di sela menunggui tokonya di Jalan Dewi Sartika, Cawang Kompor, Jakarta Timur, Minggu (13/9/2015).

Generasi penerus dari kakeknya masih ada 7 orang saudara yang melakoni bisnis perabot ini. Beda cerita dengan keturunan perempuan yang lebih memilih kerja kantoran.

"Kalau yang masih saudara satu keturunan ada 7 orang yang jualan. Ini satu deretan masih saudara semua. Tapi sudah nggak ada yang bikin kompor. Keturunan laki-laki yang teruskan usaha. Perempuannya lebih milih kerja kantoran atau karyawan ketimbang di sini," curhatnya.

Rizal menceritakan, sebelum jadi pembuat kompor, kakeknya melakoni usaha servis barang elektronik seperti kulkas. Ayahnya menikmati masa kejayaan penjualan kompor minyak pada 1990an.

Saat ini, Ia mewarisi usaha ayahnya namun bukan sebagai perajin kompor, melainkan sebagai pembuat oven dan dandang.

"Sekarang terkenalnya oven sama dandang. Bagaimana lagi, ingin tetap eksis. Sekarang apa aaja pesanan dibuat dari mulai tempat bakar sate yang arang sampai yang gas. Kubah masjid dari setengah meter sampe 7 meter," terangnya.

Ia memproduksi semua barang dagangan di tempat tinggalnya yang terletak di tidak jauh dari toko, tepatnya di Kalibata. Produksi sehari-hari Ia dibantu oleh 3 pekerja.

"Kalau ada pesanan saja kita panggil tiga orang itu buat ngerjain (mengerjakan)," tambahnya.

Keluarga Rizal memilih menghentikan produksi kompor sebab pasca konversi permintaan kompor minyak anjlok.

"Turun banget. Langsung tajam. Makanya habis itu cari akal bikin yang lain. Pertama ganti bikin oven, terus ada pesenan lain kaya exhaust (instalasi penghisap asap), ventilator, kubah masjid, toples stainless, apa aja kita buat," jelasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads