Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin membuka peringatan hari Kakao Indonesia ke-3 di Yogyakarta. Dalam sambutannya, Saleh menyampaikan harapannya agar konsumsi kakao atau cokelat nasional meningkat.
"Konsumsi kakao masyarakat Indonesia saat ini masih relatif rendah, dengan rata-rata 0,5 kg/kapita/tahun," ujar Saleh di Ambarukmo Plaza, Yogyakarta, Kamis (17/9/2015).
Angka ini jauh lebih rendah dibanding konsumsi negara-negara Asia lainnya, seperti Singapura dan Malaysia yang sudah mencapai 1 kg/kapita/tahun. Sedangkan negara-negara Eropa, konsumsi kakao sudah mencapai lebih dari 8 kg/kapita/tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saleh mencatat, konsumsi cokelat Indonesia di 2012 sebesar 0,2 kg/kapita/tahun, dan meningkat menjadi 0,5 kg/kapita/tahun di 2014.
"Diharapkan akhir tahun 2015 (konsumsi cokelat) menjadi sebesar 0,6 kg/kapita/tahun," imbuhnya.
"Sejak tahun 2010, Kementerian Perindustrian telah mencanangkan kebijakan pengembangan industri pengolahan kakao melalui program hilirisasi," kata Saleh.
Salah satu kebijakan pemerintah untuk program tersebut adalah pemberlakuan Bea Keluar (BK) Biji Kakao. Langkah ini telah berhasil mengurangi ekspor biji kakao.
"Di mana ekspor biji kakao di 2013 sebesar 188,4 ribu ton, turun menjadi 63,3 ton pada 2014," tuturnya.
Sementara itu, ekspor kakao olahan Indonesia meningkat setiap tahunnya, di 2013 tercatat 196,3 ribu ton, di 2014 sebanyak 242,2 ribu ton atau meningkat 23,3%.
Pelaksanaan hari Kakao Indonesia di Yogyakarta terdiri dari berbagai rangkaian acara seperti pameran, penjualan porduk, dan pemahatan patung cokelat.
"Pelaksanaan kegiatan ini ditujukan dalam rangka mengenalkan berbagai macam produk olahan cokelat di Indonesia kepada masyarakat, sehingga diharapkan dapat meningkatkan konsumsi cokelat di dalam negeri," tukasnya.
(sip/dnl)











































