"Kalau pabrik semen belum ada laporan, biasanya ada (laporan), tapi belum ada sekarang," kata Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (28/9/2015).
Widodo menjelaskan, kebanyakan sektor lain yang melakukan PHK karena terbebani dengan penurunan konsumsi masyarakat dan sekaligus pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), dan kenaikan tarif listrik untuk industri. Sedangkan industri semen dampak dari pelemahan rupiah hanya kecil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekarang, industri sangat berharap permintaan semen meningkat. Saat ini sudah ada lonjakan konsumsi pada Agustus 2015 sebesar 17,4%. Artinya ada titik cerah ekonomi Indonesia akan kembali bergairah dan mendorong permintaan semen, untuk pembangunan perumahan dan proyek infrastruktur.
"Sekarang pabrik nggak boleh mati, kalau mati ketinggalan penjualannya, Karena pas permintaan, banyak pabrik nggak siap, kan repot," tegas Widodo.
(mkl/hen)











































