"Kalau harga gas di bawah US$ 5/mmbtu, saya garansi investasi US$ 10 miliar (sekitar Rp 140 triliun) akan masuk sini. Industrinya sudah datang ke saya, mereka berharap ini bisa dibangun dengan harga US$ 5," ungkap Dirjen Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka Kemenperin, Harjanto, dalam Business Forum Infrastruktur Migas, di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (30/9/2015).
Harjanto mengatakan, dari pada gas bumi produksi nasional di ekspor, lebih baik dimanfaatkan di dalam negeri untuk menciptakan nilai tambah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, harga LNG (gas alam cair) dunia Juni 2015 landed price seperti di India US$ 7,2/mmbtu, Spanyol US$ 6,5, Inggris US$ 6,4 dan Korea US$ 7,25/mmbtu.
"Indonesia yang paling mahal yaitu 17-18/mmbtu," ungkapnya.
Harjanto menambahkan, posisi daya saing Indonesia masih ketinggalan dalam global competitive report. Tahun 2010 sebetulnya Indonesia sudah masuk menuju negara pre-manufaktur.
"Kalau mau jadi negara manufaktur, kita 30-40% harus menjalankan kegiatan manufaktur. Jadi nanti perusahaan bisa inovatif bisa besarkan skala usaha, bukan lagi mikir berjuang bertahan tidak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)," katanya.
"Posisi daya saing industri manufaktur Indonesia di Pasar ASEAN setelah AFTA (ASEAN Free Trade Area) segmentasi industri nggak lebih dari 30% yang bisa jadi juara, itu produk industri manufaktur yang punya daya saing dan bisa berkompetisi di pasar ASEAN. Sedangkan 70% sisanya hanya jadi kalah," tutup Harjanto.
(rrd/hen)










































