Pemerintah Sebut Banyak PHK di Industri Tekstil di Luar Perkiraan

Pemerintah Sebut Banyak PHK di Industri Tekstil di Luar Perkiraan

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 01 Okt 2015 17:17 WIB
Pemerintah Sebut Banyak PHK di Industri Tekstil di Luar Perkiraan
Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengakui gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di sektor industri tekstil di luar perkiraan pemerintah. Sebanyak 36.000 pekerja sudah terkena PHK karena turunnya penjualan di dalam negeri hingga 50% dan naiknya harga bahan baku karena penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

"Kita belum memikirkan crash program untuk mengantisipasi ini (gelombang PHK di industri tekstil), ini kan kondisi yang di luar perkiraan kita," kata Direktur Jenderal Industri Kimia Tekstil dan Aneka, Kemenperin, Harjanto, usai rapat kerja dengan Komisi VI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (1/10/2015).

Meski demikian, Harjanto yakin industri tekstil bisa segera kembali bangkit. Sebab, industri-industri lain seperti semen dan baja mulai menggeliat lagi berkat proyek-proyek infrastruktur yang mulai digenjot pemerintah. Bila pendapatan masyarakat tumbuh karena banyaknya proyek infrastruktur, permintaan tekstil juga tentu meningkat, industri tekstil pun bisa kembali bergairah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

‎"Pertumbuhan industri tekstil sekarang memang agak negatif sekarang, belum bagus. Tapi sekarang industri semen dan baja sudah bergerak karena proyek infrastruktur, mudah-mudahan tekstil terkerek juga. Kalau buruh sudah punya uang lagi kan konsumsi untuk pakaian naik," tuturnya.

Agar industri tekstil bisa bertahan, pihaknya terus berupaya membantu menekan biaya produksi, misalnya dengan memindahkan gudang kapas dari Malaysia ke Indonesia. Dengan begitu, industri tekstil di Indonesia bisa lebih berdaya saing. "Ke depan untuk industri tekstil, kita melihat bahwa perlu national branding, buffer stock membuat gudang kapas supaya lebih efisien," tutupnya.‎

‎Sebagai informasi, kalangan pengusaha tekstil dan produk tekstil (TPT) telah merumahkan ribuan karyawan mereka di tengah kondisi ekonomi yang melemah. Dari 2,5 juta pekerja sektor ini, 36.000 pekerja sudah terkena PHK karena turunnya penjualan di dalam negeri hingga 50% dan naiknya harga bahan baku karena penguatan dolar AS.

"PHK TPT lebaran sudah 6.000 dirumahkan. Sampai saat ini 30.000 se-Indonesia dirumahkan. Itu yang lapor 18 perusahaan. Banyak lagi yang belum lapor. Kalau data Kemenaker sektor garmen dan tekstil salah satu PHK terbesar, itu laporan ke kita beda. Laporan ke kita sekitar 30.000 orang dirumahkan," kata Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G Ismy.

Dia mengatakan, pemerintah harus fokus membantu industri TPT, misalnya dengan diskon tarif listrik. Menurutnya, bila tak ada bantuan pemerintah maka perlahan industri TPT akan banyak yang tutup.

(rrd/rrd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads